Ngaji Ramadan 1444 Hijriyah Pondok Pesantren Al-Mustaqim

Oleh: Sholahuddin
Tulisan kedua
Mbah Maemon sebagai seorang ulama-nasional Indonesia yang kharismatik ternyata tidak hanya memiliki kemampuan dan kepandaian dalam keilmuwan agama Islam, beliau juga paham filsafat, baik barat maupun timur. Hal ini terlihat dari elaborasi kiai Maemon dalam kitab Al-ulama Ál-mujaddidun. Beliau menulis “wa hakadza dakhola fil biladil islamiyyati aryahul falsafati, sawaún akanat gharbiyyatan am syarqiyyatan, mistla falsafah as-sensekeritiyyah wal yunaniyyah taálimal aflath wa ghairaha” (Dan demikianlah, riyak-riyak filsafat telah masuk didalam negara-negara Islam, baik pemikiran filsafat dari Barat dan Timur, seperti filsafat Sansrekerta dan filsafat Yunani dengan ajaran-ajaran dari Plato dan yang lainnya).
Allah SWT senantiasa mengirimkan untuk umat Muhammad seseorang yang memperbaharui agama dan dasar-dasarnya, seperti imam Al-asyári dan Imam Al-maturidi. Pada abad ke-4 muncul mujaddid imam Abu Bakar Al-baqillani, pada abad ke-5 muncul Imam Al-ghazali yang mengarang kitab Ihya’, pada abad ke-6 muncul Imam Rofií dan diikuti oleh Imam Nawawi, seorang faqih yang memiliki anggitan-anggitan banyak sekali, baik kitab matan maupun kitab syarah.
Pada abad ke-7 muncul imam Ibnu Daqiqil iéd, sementara itu pada abad ke-8 sosok pembaharu agama itu adalah Imam Jalaluddin Al-bulqini, kemudian pada abad ke-9 muncul imam Jalaluddin Al-mahalli dan Imam Jalaluddin Al-suyuthi. Di tangan imam Suyuthi ilmu-ilmu keislaman menjadi lebih matang dan tersebar di beberapa negara Islam, seperti dasar-dasar tafsir dan lain sebagainya.
Dalam kitab ini juga kami temukan data menarik tentang sanad keilmuwan Mbah Maemon yaitu ketika beliau menerangkan tentang mujaddid Al-imam Al-murtadla, sang pengarang kitab Ithaf Saadat Al-muttaqin yang menjadi syarah atas kitab Ihya’ Ulumiddin karangan hujjatul Al-ghazali At-thusi.
Dikatakan oleh mbah Maemon: “orang yang pertama kali berguru kepada imam Al-murtdla dari Jawa adalah Kiai Abdul Mannan ketika kiai Abdul Mannan mukim di Mekah, kemudian meriwayatkan dari kiai Abdul Mannan, yaitu puteranya yang bernama Kiai Abdullah, meriwayatkan dari kiai Abdullah ini yaitu putranya Kiai Mahfudz Termas, meriwayatkan dari kiai Mahfudz Termas yaitu kiai Faqih Maskumambang, dan telah berguru dari kiai Faqih Maskumambang, Yaitu KH Zubair Dahlan, dan Mbah Maemon meriwayatkan kitab dari abahnya (Mbah Zubair)”.
Jika disarikan maka akan tampak:

Kunjungi Artikel sebelumnya https://manualmustaqim.sch.id/2023/03/28/mbah-maemon-dan-kitab-ulama-al-mujaddidun/
Semoga kita semua mendapatkan luberan berkah dan manfaat dari keilmuwan Mbah Maemon, dan menjadikan kita lebih baik dan berkah hidupnya. Amin.
(Bersambung)