Artikel

Seringkali kata Literasi ini hanya sebagai kemampuan dan membaca. Memang benar dalam kamus KBBI Literasi yang artinya kemampuan menulis dan membaca.

Jepara “Kota Garmen” dan Degradasi Peranan Ibu

Oleh: Sholahuddin Muhsin

Kepala Madrasah Aliyah NU Al Mustaqim dan Alumnus Center For Religious and Cross-Cultural Studies (CRCS) Sekolah Pascasarjana UGM Yogyakarta.

Sosok ibu selalu digambarkan sebagai seorang perempuan yang penuh kasih dan sayang
kepada putra dan putrinya. Sosok ibu dalam ajaran Islam disebut sebagai al madrasah al ula
(Madrasah atau sekolah pertama). Ibu memiliki peran penting dalam membangun
peradaban manusia. Dalam Islam, mereka dianggap sebagai pilar utama keluarga sekaligus
tokoh sentral dalam dakwah dan pendidikan. Sebagai pendidik generasi, perempuan
memiliki kemampuan untuk menanamkan nilai-nilai keislaman kepada anak-anak, yang
kelak menjadi penerus umat. Hal ini menggambarkan betapa mulianya kedudukan
perempuan/ibu dalam Islam.
Gambaran tentang pentingnya Ibu sebagaimana diatas kontras dengan apa yang telah
terjadi di Jepara. Karena keterdesakan ekonomi, ibu-ibu muda menjadi karyawan di pabrik
garmen dan banyak yang kehilangan fungsinya sebagai madrasah ula (pendidik pertama)
bagi anak-anaknya. Hingga triwulan tahun 2025 jumlah jumlah investasi pabrik Garmen
telah menyerap kurang lebih 14.178 tenaga kerja. dari total itu, mayoritas adalah
perempuan dan ibu-ibu. Satu sisi memang ditemukan kesejahteraan ekonomi para pekerja
perempuan, yang awalnya tidak memiliki penghasilan sama sekali, sekarang memiliki
penghasilan yang setara dengan upah minimum regional jepara.
Disamping sisi kesejahteraan yang meningkat, terdapat pula ekses negatif dari terserapnya
ibu ke dalam pabrik garmen. Diantara ekses negatifnya adalah hilangnya fungsi pendidik
didalam keluarga. Bagaimana mau mendidik putra atau putrinya? Lha wong mereka baru
pulang dari garmen jam 18.00 WIB dengan kondisi badan yang letih.
Di desa-desa di Jepara dulu, kita melihat selepas Maghrib hingga Isyak ibu mengajari turutan
atau juz amma bagi putra dan putrinya di rumah. Setelah itu mereka salat berjamaáh
dengan ayah menjadi imam di rumah. Tetapi fenomena sosial seperti itu, sekarang dan saat
ini, di era digital, sudah jarang ditemukan.
Anak-anak beralih dari membaca turutan atau juz amma ke memencet tombol hp atau
gawai mereka, main game, atau scrolling fb, Instagram, thread, twitter atau yang lainnya.
Hal ini menjadikan melemahnya fungsi keluarga didalam masyarakat. Karena melemahnya
peranan ibu. Dalam buku “Peranan Perempuan dalam Pembinaan Mental Spiritual Generasi
Bangsa dalam Perspektif Pendidikan Islam”, disebutkan bahwa ibu memegang peran
strategis dalam membangun mental dan spiritual generasi bangsa, terutama dalam konteks
pendidikan Islam.
Sebagai pendidik, baik di lingkungan formal maupun informal, ibu memikul tanggung jawab
penting dalam membentuk karakter dan kepribadian generasi muda. Dalam ranah formal,
perempuan yang berperan sebagai pendidik di sekolah atau lembaga pendidikan Islam
seperti pesantren tidak hanya bertugas menyampaikan ilmu agama, tetapi juga
menanamkan nilai-nilai moral yang menjadi dasar kehidupan bermasyarakat. Di sisi lain,
dalam konteks informal, peran perempuan sebagai ibu dalam keluarga memiliki dampak
yang signifikan dalam membentuk pemahaman dan kebiasaan keagamaan anak-anak sejak
usia dini.


Lantas apa yang dapat diperbuat untuk mengembalikan peranan Ibu dalam kehidupan
keluarga mereka? Ada beberapa sudut pandang untuk menjawab pertanyaan ini, yang
pertama dari Pemda Jepara dimohon untuk membatasi Penanaman Modal Asing di
territorial Jepara. Karena penanaman modal asing pasti akan menimbulkan berbagai macam
efek negatif, pembatasan ini dilakukan dengan pembatasan pemberian ijin terhadap
Penanaman modal asing.
Dari sisi preventif perlu dilakukan penguatan Lembaga-lembaga Pendidikan keagamaan
Islam untuk mempertebal iman, Islam dan ihsan para ibu. Beberapa Lembaga Pendidikan
Islam seperti Taman Pendidikan Al qurán (TPQ), Madrasah diniyyah, pondok pesantren,
majelis taklim, majelis sholawat dan lain sebagainya perlu untuk terus diperkuat untuk
membendung gejala dekadensi moral dan lain sebagainya. Bentuk penguatan itu misalkan
dengan pemberian insentif kepada guru-guru TPQ, Madin dan pesantren sehingga
kesejahteraan mereka terjamin, dan jika kesejahteraan mereka terjamin, maka mereka akan
tulus mentransfer ilmunya kepada santri-santri mereka. Wallahu A’lam Bi Ashowaab.

SELAMAT HARI IBU 2025

Jepara, Senin 22 Desember 2025

Facebook
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories

Most Popular

Copyright © 2025 MA NU ALMUSTAQIM. All rights reserved.