Oleh: Aulia Nailatul Fadlil As Sa’da
Namanya Salwa salsabila, seorang santri kelas dua di pesantren putri Nurul Huda. Ia bukan santri putri yang nakal, bukan juga santri putri yang paling rajin. Ia seperti langit Sore, yang tak gelap, tapi juga belum terang.
Setiap sore, suara lantunan ayat suci Al – Quran yang terdengar dari masjid seharusnya menjadi penyejuk hati. Tapi bagi Salwa, akhir – akhir ini semua terdengar berat. Sudah berminggu – minggu hafalannya tak kunjung lancar. Setiap kali maju setoran, lidahnya bergetar, wajahnya memanas menahan malu, ayat ayat yang seharusnya ia hafal hilang begitu saja.
“Kenapa sekarang aku seperti ini? kenapa rasanya susah sekali?” pertanyaan itu selalu berputar di kepalanya setiap malam sebelum tidur. Ia juga memikirkan ucapan ayahnya sore tadi di telepon, “bagaimana hafalan kamu nak…, lancar kan? tambah semangat ya nderesnya biar cepat khatam…” Salwa hanya menjawab pelan “Insyaallah yah… doakan saja nggih…” padahal di dalam hatinya, ia tak lagi yakin dengan dirinya sendiri.
Suatu malam, setelah gagal menghafal satu halaman surah An Nisak meski di ulang sepuluh kali, Salwa menutup mushafnya dengan keras. Air matanya jatuh. Ia duduk di pojok kamar Memandangi foto kedua orang tuanya sambil berbisik pelan, “ayah, ibu kalau Salwa lelah, boleh nggak istirahat sebentar? namun, istirahat yang ia maksud bukan sekedar tidur melainkan menyerah.
Suatu siang, Salwa dipanggil oleh ustadzah Maryam; pembimbing tahfid Nya “Salwa,” kata ustadzah dengan lembut. “Hafalanmu akhir-akhir ini menurun ya? ada apa mbak? kenapa? dulu sepertinya kamu tidak begini. Salwa menunduk, jari-jarinya meremas ujung kerudung.
“Saya sudah berusaha ustadzah… tapi seolah hafalannya tidak mau masuk ke kepala saya. Mungkin saya memang sudah tidak bisa, saya tidak kuat ustadzah, saya ingin pulang saja..”
Ustadzah Maryam menatapnya lama, lalu duduk disebelahnya, “Salwa, kamu tau apa bedanya Santri berhasil dan yang berhenti?” Salwa menggeleng, “Yang berhasil bukan yang paling pintar, tapi yang paling sabar. Kadang Allah menunda hafalanmu bukan karena kamu bodoh, tapi karena Ia ingin kamu belajar rendah hati,” ustadzah tersenyum tipis dan ini semua mungkin karena kamu terlalu sibuk menyesali bukan memperbaiki.” Salwa terdiam.
“Salwa.. mungkin kamu sering lupa,” lanjut ustadzah. “Bahwa menghafal Al-Qur’an bukan soal cepat atau lambat. Tapi soal hati yang sabar. Kalau hatimu sempit, ayat-ayat itu tidak punya tempat untuk tinggal. Kalau kamu menyerah sekarang, kamu bukan gagal, tapi kamu memilih berhenti di tengah jalan yg seharusnya kamu selesaikan.”
Salwa Kembali terdiam. Kata-kata itu menembus hatinya seperti air yang meresap ke tanah kering. Malamnya, la duduk diserambi kamar, memandangi langit yang mulai gelap. la tidak Menangis kali ini. Hanya diam dan mencoba berdamai dengan hatinya sendiri.
“Mungkin aku memang belum pantas menerima banyak ayat, karena aku belum cukup sabar.”
Keesokan harinya, Salwa mencoba sesuatu yang berbeda ia mulai menghafal perlahan, bukan untuk menyenangkan ustadzah, bukan untuk bersaing dengan teman-temannya, tapi untuk menenangkan hatinya sendiri.
Hari demi hari, hafalannya mulai mengalir kembali. Setiap kali ia tersandung, ia mengulang dengan senyum kecil, bukan dengan berkeluh.
Beberapa bulan kemudian, Salwa kembali berdiri di depan ustazah yang sama. Kali ini untuk tasmi 10 juz. Setelah Selesai, ia menangis lagi, tapi kali ini bukan karena ingin menyerah, melainkan bersyukur.
Salwa tersenyum, malam itu ia menatap langit dari jendela pesantren, biru dan luas, – seperti hatinya sekarang.
“Ternyata langit tidak pernah pergi, hanya saja aku yang dulu menunduk terlalu lama.”