Sabtu, 9 Mei 2026 merupakan hari yang bersejarah dalam ingatan anak-anak kelas 12 MA NU Al mustaqim, mereka resmi telah di wisuda oleh Kamad MA Al mustaqim, H Sholahuddin, SS, MA.
Sejumlah 23 siswa dan siswi telah menamatkan pendidikan di MA NU Al mustaqim. Dari 23 tersebut 17 diantaranya sudah lulus masuk Perguruan Tinggi Keagamaan Islam negeri tanpa test. Dalam kesempatan tersebut, Kamad MA NU Al mustaqim, H. Sholahuddin Muhsin menyampaikan tema wisuda Silahuna Al ilm, Wa Hisnuna Al Adab, wa hadafuna al an nafú (senjata kita adalah ilmu pengetahuan, benteng kita adalah budi pekerti yang mulia dan tujuan kita adalah kemanfaatan ilmu). “setelah kalian di bina dan di didik disini selama tiga tahun, kami harapkan kalian bisa menjaga nama baik almamater dan menjunjung tinggi akhlaqul karimah ditengah-tengah masyarakat.” Demikian ditandaskan oleh bapak Kamad dalam sambutanya. Sementara bapak ketua Yayasan Muhsin Ali menegaskan pentingnya melanjutkan menuntut ilmu, tidak hanya mencukupkan diri di jenjang Madrasah Aliyah.
Sedangkan KH Muharror Afif, Lc yang sering dipanggil kiai Harror menyampaikan bahwa “Tidak ada yang Namanya mantan guru, jangan sampai para siswa dan siswi yang diwisuda pada pagi ini memanggil itu adalah mantan guruku di Madrasah Aliyah”.
Dalam kesempatan itu pula beliau menceritakan bagaimana KH Makmun Abdullah Hadziq ketika masih mondok di Kudus, kebetulan ada salah satu guru Kiai Makmun muda ada yang ahli hikmah, suatu ketika sang guru itu memanggil Makmun muda dan menitipkan akik yang sudah di raja supaya dijual oleh Gus Makmun ke santri-santrinya di rumah. Sesampainya Gus Makmun di rumah, mbah Abdullah Hadziq pirso kalo gus Makmun membawa Akik, kemudian ditanya: kuwi opo Mun? Akik pak, saking guru kula ken Nyade kaleh poro santri. Seketika itu mbah Abdullah Ngendikan: uwes ojo mok dol karo santri-santri, tak tukune wae. Sembari mbah Abdullah Hadziq memberikan uang ke Gus Makmun. Nanging kuwe ojo matur gurumu ya kalau aku yang beli Akik.
Setelah itu Gus Makmun Balik ke Pondok, di pondok beliau ditimbali oleh gurunya, “Payu pira gus?” tanya sang guru, Alhamdulillah laku sedanten kiai. Jawab Gus Makmun muda. Mangke lek sampean wangsul maleh aku bade titip ya. Timpal kiainya. Pada bulan berikutnya ketika gus Makmun muda pulang, beliau dititipi 2 kali lipat jumlah dari akik yang bulan lalu. Seperti yang bulan Gus Makmun hendak menjualnya ke para santri, ndilalah mbah Dullah pirso dan kemudian di beli lagi oleh mbah Dullah Hadziq. Dullah ngendikan: “Gurumu kuwi podo wae guruku mun!”. dari cerita ini kita mengambil pelajaran pentingnya penghormatan guru anak-anak kita, karena guru mereka sama juga dengan guru kita.