Artikel

Seringkali kata Literasi ini hanya sebagai kemampuan dan membaca. Memang benar dalam kamus KBBI Literasi yang artinya kemampuan menulis dan membaca.

WAKTU ADALAH KESEMPATAN

Oleh: Kelvin Maulana Isbat (Kelas X MIPA)

 

Subuh ini begitu sejuk, Matahari belum bangun, lampu membantuku melihat walau sinarnya kecil bagaikan satu lilin di tengah gelap. Beruntungnya sinar bulan juga membantuku. Hawa dingin menguasai tempat ini aku berjalan sempoyongan mengantuk karena baru bangun tidur. Aku menuju keran air yang berada di belakang rumah lalu mengambil wudhu, seketika aku sadar total karena air menambah dinginnya suasana. Teriakan menggelegar sehingga emak yang ada di kamar terdengar. Tanpa di sadari orang-orang disekitarku, aku sudah bangun, “Iya mak, aku sudah bangun.” Jawabku dengan berteriak. Dia berjalan menemuiku lalu berhenti di depanku dan berkata “Subhanallah, anakku sudah bangun, kesambet apa kamu.” Dengan melihat senyumnya yang menenangkan lalu kita salat jamaah yang disusul kakak perempuanku yang baru bangun.

Pagi ini sangat Terik, entah awan pergi kemana aku berjalan menuju sekolah di Tengah perjalanan aku melihat anak kecil sedang berjualan tisu dia seumuran anak lain yang mana dalam umurnya seharusnya di sekolah dan menghampiriku. Dia menawariku untuk membeli tisunya. Aku bertanya “Dimana orang tuamu?” dia menjawab “Aku tidak punya orang tua.” Aku terus bertanya dengan pertanyaan-pertanyaan di kepalaku yang ingin kutanyakan.

“Dengan siapa kamu tinggal?”

“Dengan nenek tapi dia lumpuh,” Jawabnya. Hatiku tersentuh lalu aku membeli tisunya serta kuberi dia sedikit uang tambahan walau uang sakuku cukup.

Sampai di sekolah aku melihat banyak anak-anak dengan muka ceria senang serta gembira di banding dengan anak yatim piatu tadi. Rasa bersalah menyelimutiku “kenapa aku tadi bertanya seperti itu ya,” ucapku dalam hati. Bel sekolah masuk berbunyi, kringgg……. Kelas dimulai dengan guru yang menagih Pekerjaan Rumah (PR). Seketika suasana berganti raut muka teman-teman yang berubah, guru mengecek PR murid satu persatu dengan alis membentuk V dan tekstur mulut seperti mengunyah sesuatu.

“Untung aku sudah selesai.” Ucapku dalam hati dengan perasaan lega.

“Siapa tadi yang saya cek belum mengerjakan, cepat kedepan.” Ucap tegas Pak Guru. Enam temanku berdiri dari tempat duduk dengan tubuh yang digerakkan terpaksa.

“Rendi, citra, rifki, maula, putra dan cita, sekarang kalian putari lapangan 40 kali.” Ucap pak guru dengan marah-marah.

Selanjutnya Pelajaran di mulai dengan guru yang memasang proyektor. Guru berkata, “Hari ini kita mempelajari tentang pentingnya pengetahuan dalam meraih cita-cita ya anak-anak.”

“Iya, Pak.” Jawab anak-anak dengan hampir bersamaan. Guru pun memutar sebuah video kemampuannya masing-masing seperti dokter, guru, sekretaris, dan lain-lain. Lalu aku bertanya, “Pak, dengan apa sukses dapat diraih?”

Guru menjawab, “dengan belajar. Belajar yang tekun adalah kunci kesuksesan, dan karena itu kita sekolah. Sekolah ini adalah lembaga yang mencetak orang-orang terpelajar serta pengetahuan dan keterampilan dan lain-lain. Yang membantu orang tersebut untuk sukses dan jangan lupa beribadah. Siapapun kamu, dimanapun, dalam keadaan apapun, belajarlah dan beribadalah selagi ada waktu karena waktu adalah kesempatan.”

Waktu sudah menunjukkan jam 13.00, lalu kita pergi ke musholla untuk salat berjamaah, selesai salat aku melihat keranda yang diangkat warga dengan rombongan orang-orang yang mengikutinya. Mereka menuju musholah yang kita tempati, pak guru menghampiriku dan berkata “kita mensalati jenazah dulu ya.”

“Iya, Pak. Jawabku.

Alangkah terkejutnya aku saat jenazah diletakkan di mushollah. Bau harum jenazah menguasai seisi ruangan. Pak guru pun berbicara padaku, “Sukses bukan cuma di dunia saja. Tapi harus sukses di akhirat juga, yang terpenting adalah akhiratnya.”

Semua teman-teman pulang, tersisa aku dan Pak Guru yang mengikuti acara pemakaman sampai selesai, dua patok telah ditancapkan dan dilanjut dengan doa. Kemudian orang-orang  meninggalkan area pemakaman, tersisa aku, pak guru, serta pak RT yanag masih di samping pemakaman orang yang meninggal dengan makam yang harum ini. Kemudian sebuah perbincangan terjadi, antara pak guru dan pak RT dan menjadi bagian pendengar setia.

“Siapa Jenazah ini?” tanya Pak Guru.

“Almarhum nenek Faizah, kasihan dia lumpuh tapi dia tetap rajinberibadah kepada Allah, dia hidup berdua bersama cucunya.” Dengan melihat batu nisan almarhum.

“Ekonominya sulit.” Ujar Pak RT. Pembicaraan berhenti saat kami bertiga melihat seorang anak mendekati kami dengan tangisnya yang tak ujung berhenti. Langkah demi langkah dia mendekat menggeser keberadaan pak guru dan pak RT yang menghalangi jalannya. Lalu dia terduduk lemas sambil menangis di samping makam neneknya. Sungguh malang nasib anak yang berjualan tisu tadi pagi. Dia kehilangan keluarga satu-satunya dalam hidupnya.

Suasana berubah, aku merasa sedih. Begitu pula dengan raut muka Pak RT dan Pak Guru. Mereka berdua mendekatinya mencoba menenangkannya. “Tenang, sudah-sudah jangan menangis. Ini sudah takdir tuhan.” Nasihat Pak RT sambil mengelus-elus punggung anak tersebut.

“Sudah, jangan menangis. Bagaimana kalau sekarang kamu tinggal sama bapak. Dan kamu dapat bersekolah juga. Seperti anak-anak yang lain.” Ucap Pak RT. Anak ini masih memandang makam neneknya dan mulai mengusap matanya perlahan keluar air mata lagi. Kemudian anak tersebut berterimakasih pada Pak Guru dan Pak RT dan ikut pulang bersama Pak RT.

Malam pun tiba, aku berada di tempat tidurku dengan belajar. “Eeem, males sekali belajar. Tapi gimana lagi, in ikan kunci sukses.” Ujarku. Suara pintu kamar Ngeeeek, terbuka dengan pelan. Aku melihat ke arah pintu, “Ouh, ternyata, Emak,” ucapku.

“Masyaallah anakku, rajinnya.” Ucap emak dengan ekspresi lega.

“Mak, biasa saja dong seperti melihat orang yang tidak pernah belajar saja,” jujurku dengan raut muka cemberut. Emak berjalan  menghampiriku dan duduk di sampingku.

“Ada apa, sepertinya tidak semangat gitu. PR yang mana yang sulit?” ucap emak dengan lembut.

“Tidak lagi mengerjakan, Mak.” Jawabku.

“Lalu ngapain? Biasanya kamu gini kan kalau ada PR atau pas semesteran aja,”

“Ini aku mau belajar, kata guru belajar yang tekun adalah kunci sukses. Tapi males.” Jawabku.

Emak tersenyum dan mengelus kepalaku serta berkata, “kalau mau bisa ya, harus dengan hati belajarnya. Kalau cinta Pelajaran kamu pasti memiliki dorongan belajar dan pasti bisa. Dimana-mana kalau sudah cinta itu diusahakan dan dikejar.” Nasihat emak, sangat mengena dilubuk hati terdalamku. Lalu aku tersenyum melihat emak dan nasihatnya, seperti ada qoutes di atas kepala emak. “Sudah ya, Emak mau lanjut memasak” emak pergi keluar kamar, aku pun melanjutkan belajar dengan kobaran semangat.

Pagi harinya aku bergegas berangkat sekolah dengan berlari, sampai di tempat yang biasa ada anak penjual tisu. Aku berhenti menengok kesana kemari mencari anak itu.

” Kok anak itu tidak ada ya?” tanyaku dalam hati. Lalu aku bertanya kepada warga sekitar. “Maaf pak, anak penjual tisu yang biasa disini dimana ya?”

 

“Tidak tahu dek, biasanya dari sesudah subuh sudah disini. Tapi aku juga tidak lihat dari tadi. ” Jawab bapak-bapak tersebut.

“Yaudah pak, terimakasih.” Ucapku.

“Iya, Dek.” Jawab bapak-bapak tersebut dengan melanjutkan aktivitasnya.

Lalu, aku melanjutkan berlari menuju sekolah. Sesampainya di Sekolah, “Lah ternyata disini.” Ujarku.

Aku memandang anak itu bahagia bersama dengan teman barunya di depan kelas 1 “Alhamdulillah ” ucapku dengan lega dalam hati .

Sekolah di mulai seperti biasa. Hari-hari terus berjalan tanpa usaha kita tidak akan mendapat apa yang kita mau. Peradaban semakin maju, bisa saja kita tergerus oleh waktu, mulailah belajar untuk berusaha meraih masa depanmu. Mulailah dari saat ini dan detik ini karena waktu adalah kesempatan. Yang sirna berlalu takkan bisa kembali. Gagal tidak apa, karena itu proses dari berhasil. Lihatlah usahanya, bukan hasilnya karena hasil tuhan menentukan. Rugi kau yang tanggung, hasil kau yang untung.

 

Jepara, 4 Februari 2025

Facebook
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories

Most Popular

Copyright © 2025 MA NU ALMUSTAQIM. All rights reserved.