Aulia Izzatun Nisa’
(Mahasiswi PGSD UNISNU Jepara)
Kedatangan Paus Fransiskus ke Indonesia membawa makna penting bagi berbagai kalangan dan segmentasi masyarakat. Sosok Paus, pemimpin tertinggi Gereja Katolik, tampak menggunakan mobil sederhana dan arloji yang hanya seharga 200 ribu menggambarkan nilai-nilai kesedrhanaan. Tradisi itu yang mulai luntur di kalangan sebagaian besar masyarakat Islam di Indonesia.
Memang, altruisme sebagai sikap dan nilai hidup belakangan ini semakin sulit kita temukan. Perilaku baik yang nir-pamrih seolah absen dari kehidupan kita. Hari ini, nyaris semua manusia berlomba berbuat baik, namun sayangnya dilandasi oleh prinsip transaksional.
Para politisi rajin membagi sembako, bahkan mencium tangan perempuan renta, hanya ketika masa kampanye saja. Tidak lupa mereka membawa kamera yang siap mengabadikan adegan yang didramatisasi itu dan mengunggahnya ke kanal media sosial. Berharap perbuatan baik itu bisa dikonversikan ke dalam angka-angka elektoral.
Hal serupa juga dilakukan oleh Youtuber, selebgram, maupun Tiktoker. Mereka berlomba berbagi uang, barang, atau makanan bukan atas nama kemanusiaan. Melainkan demi viralitas, popularotas, media sosial dan hal-hal sejenis yang akhirnya dikonversikan menjadi iklan atau endorsement yang mendatangkan keuntungan finansial.
Bahkan, kita pun kerap tanpa sadar berlaku demikian. Berbagai nasi sebungkus saja harus divideokan, lalu diunggah ke medsos kita. Seolah nasi bungkus itu telah mengubah hidup si miskin. Dunia digital dalam banyak hal telah membentuk kita menjadi homo narcissus; makhluk yang terobsesi dengan citra diri dan menempatkan diri sebagai pusat semesta.
Cilakanya, obsesi narsistik itu tidak hanya mengemuka dalam kehidupan sosial, namun juga perilaku beragama. Maka, menjadi wajar jika perilaku keberagamaan kita hari ini riuh oleh ekspresi yang bersifat narsistik. Umat beragama gemar memamerkan kesalehan beragama simbolistik, yang hanya fokus pada aspek eksoterik agama.
Kita fasih merapal kitab suci, mengeluarkan banyak uang untuk umroh atau naik haji, juga mengadaptasi gaya hidup yang diklaim islami. Namun, di saat yang sama kita justru abai bahwa hakikat beragama adalah kemanusiaan. Narsisisme beragama inilah yang lantas menjerumuskan kita pada jebakan konservatisme.
Di satu sisi, umat beragama memang kian relijius, namun di sisi lain religiositas itu tidak berbanding lurus dengan aspek humanitas. Bahkan, sebaliknya religiositas acapkali berbanding lurus dengan sikap intoleran. Kian soleh seseorang, kecenderungan untuk berlaku eksklusif dan intoleran terhadap kelompok lain justru kian besar.
Intoleransi beragama memang fenomena yang kompleks dan dilatari oleh multifaktor. Namun, saya melihat berkembangnya narsisisme beragama yang mewujud pada religiositas simbolik itu juga turut menyumbang andil besar pada suburnya intoleransi beragama. Maka, salah satu cara mengamputasi intoleransi itu salah satunya adalah dengan mengembangkan religiositas altruistik.
Religiositas altruistik adalah cara pandang dan perilaku keagamaan yang nir-pamrih dan semata berorientasi pada aspek esoterik atau sisi terdalam agama. Dimensi esoterik ini akan menuntun manusia pada kesadaran bahwa puncak tertinggi kesalehan beragama itu adalah ketika kita mampu menjadi individu yang humanis.
Religiositas altruistik ini tercermin dari perilaku yang tidak memaksakan klaim kebenaran (truth claim) ke kelompok agama lain. Pemaksaan atas tafsir dan klaim kebenaran kepada kelompok agama lain sama saja dengan mengkudeta otoritas Tuhan. Sejarah mencatat, pemaksaan atas klaim kebenaran agama itu telah menyulut api intoleransi bahkan kekerasan yang menginjak-injak nilai kemanusiaan.
Ketika individu sampai pada level religiositas yang altruistik ini, maka laku keagamaan yang ia jalani akan steril dari motif dan pamrih. Kita tidak lagi membutuhkan validasi atas keimanan yang kita yakni. Bahkan, pada titik tertentu kita tidak lagi terkungkung dalam imajinasi surga dan neraka yang acap membuat umat beragama bersikap jemawa. Religiositas altruistik akan mendorong kita untuk menjalani laku keagamaan dengan spirit toleran, inklusif, dan humanis.
Wallahu A’lam Bi Ashowab.
Jepara, 12 September 2024
2 thoughts on “Kedatangan Paus Fransiskus dan Altruisme Publik”
Mengapa altruisme semakin sulit ditemukan dalam kehidupan modern menurut penulis? kunjungi IT Telkom
therefore the importance of empathy