Oleh: Aviskha Izzatun Noilufar, S.Pd
Ia adalah keyakinan yang tumbuh menjalar ke seluruh jiwa Perempuan Indonesia bahwa kita dapat menjadi manusia sepenuhnya, tanpa harus berhenti menjadi wanita sepenuhnya.
Kartini dengan kebajikan dan cinta kepada sesama. Dari bagian kehidupan kalbunya yang menyebabkan ia menjadi permata toleransi, kesadaran harga diri, dan penghargaan terhadap kebajikan yang juga berasal dari orang-orang lain.
Kartini memiliki kepekaan sosial tinggi sehingga mampu merasakan apa yang dirasakan oleh kaumnya. Kepekaan inilah yang menjadikan kartini selalu gelisah melihat nasib kaum wanita dan mendorongnya untuk berjuang terhadap mereka meskipun dengan berbagai keterbatasan. Keterbatasan tidak dijadikan alasan untuk bermalas-malasan. Sebaliknya, keterbatasan itu dijadikan sebagai motivasi untuk selalu berusaha. Kekuatan sejati terletak pada peran positif yang dilakukan oleh kaum Wanita.
Kita ingat kisah Kartini tentang keinginannya untuk belajar di Belanda digagalkan oleh kebijakan pemerintah Belanda. Seharusnya Kartini frustasi dengan kegagalan itu. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Kartini tidak menjadikan kegagalannya berangkat ke Belanda sebagai penghalang untuk tetap belajar. Buktinya, kartini malah semakin rajin membaca dan menulis.
Kita mungkin bertanya-tanya; apa yang menjadikan Kartini tetap begitu bersemangat dalam belajar meskipun impiannya ke Belanda kandas di tengah jalan? salah satu jawabannya barangkali adalah karena cinta. Ya, cinta. Setiap manusia pasti memiliki rasa cinta, terutama cinta kepada dirinya sendiri. Itulah perasaan paling murni yang ada pada setiap manusia. Kartini adalah sosok yang sangat mencintai dirinya sendiri, menghargai potensi, kemampuan dan masa depannya. Karena itu, Kartini tidak membiarkan dirinya tenggelam dalam rasa putus asa.
Perlu kita sadari bahwa naluri setiap manusia selalu cenderung kepada segala sesuatu yang dapat menjadikannya merasa senang dan Bahagia. Sementara sesuatu yang bisa membuat Bahagia itu bermacam macam, salah satunya adalah belajar. Bila kita cinta kepada pengetahuan, maka dalam kondisi apapun kita akan tetap belajar.
Kartini telah melakukan itu semua. Semangat belajarnya, semangat membacanya, tidak padam hanya karena ia gagal berangkat ke Belanda sebagaimana yang diidam-idamkan selama ini. Dengan demikian, apa yang dilakukan Kartini menunjukkan bahwa mencintai diri kita hakikatnya adalah perasaan adanya perasaan dalam batin yang menganjurkan kita melakukan sesuatu yang terbaik dan berarti dalam hidup ini. Hakikat cinta adalah apabila ia telah sempurna menjadi motivasi bagi kita untuk memperbaiki diri sendiri. Dengan melakukan diri kea rah yang lebih baik, maka kita sudah membuktikan bahwa kita benar-benar mencintai diri kita sendiri.
Layaknya orang yang sedang merasakan manisnya cinta, Kartini seperti merasa tak pernah letih untuk melakukan banyak hal, terutama membaca dan menulis. Cinta kartini kepada pengetahuan tidak menjadikannya bermalas diri untuk terus menggali informasi dengan cara membaca.
Jauh dari lubuk hati Kartini, selalu menyala api semangat yang mendorongnya untuk memberikan banyak manfaat kepada orang lain di sekitarnya.
“Menolong diri sendiri itu kerap kali lebih sukar daripada menolong orang lain. Dan siapa yang dapat menolong dirinya sendiri, akan dapat menolong orang lain dengan lebih sempurna.”
(Buku Gelap Terang Kartini Sisi Lain Hidup dan Karya Sang Perempuan Perkasa)
SELAMAT HARI KARTINI
Jepara, Ahad, 21 April 2024