Artikel

Seringkali kata Literasi ini hanya sebagai kemampuan dan membaca. Memang benar dalam kamus KBBI Literasi yang artinya kemampuan menulis dan membaca.

SELAGI TIDAK SALAH, JANGAN TAKUT

Oleh: Selamet Suryo Pakubuwono (XI MIPA MA NU AL MUSTAQIM)

 

Terdengar suara kokokan ayam yang berbunyi nyaring diluar sana. Nampaknya suara itu telah mengusik tidurnya seorang pemuda. Pemuda tersebut bernama Haikal. Bagi Haikal suara tersebut adalah alarm baginya. Ia pun melirik jam yang ada di dinding. Jarum-jarumnya menunjukkan pukul 03.41. Haikal pun bangkit dari tempat tidurnya guna melaksanakan shalat sunnah 2 rakaat.

Haikal dilahirkan dari keluarga yang kurang mampu, dan Ayah haikal sudah meninggal karena kecelakaan waktu ia kelas 5 SD. Walaupun begitu, Haikal tetap berkeinginan besar untuk melanjutkan sekolah hingga perguruan tinggi. Bahkan ia rela membuat dan berjualan kue demi untuk meringankan pekerjaan ibunya. Kini Haikal telah berumur 17 tahun dan merupakan murid kelas XI di sekolah SMA Negeri 11 Banjarmasin.

“Mas ayo sholat subuh berjamaah habis itu bantu ibu buat kue.” Ucap Hilda-Ibunya Haikal.

Sang surya nampaknya sudah mulai keluar dari persembunyiannya di ufuk timur. Kelihatannya sang surya bersemangat memancarkan kehangatan ke seluruh penjuru. Begitu pun juga dengan Haikal yang terlihat memasukkan buku Pelajaran ke dalam tas beserta kue donatnya kedalam wadah tersendiri. Jarum jam menunjukkan pukul 06.15 yang berarti haikal harus berangkat sekolah sekarang. Karena perjalanan dari rumahnya kesekolah lumayan jauh dan tidak ada kendaraan yang ia gunakan, makanya haikal harus berangkat pagi guna tidak terlambat. Sebenarnya Haikal punya sepeda peninggalan ayahnya, namun sepeda tersebut digunakan oleh ibunya bekerja di ART di sebuah rumah orang kaya yang rumahnya harus melewati desa.

Haikal, maju sini! panggil Pak Yatmo guru Matematika “Selamat ya. Kamu mendapakan nilai sempurna lagi.” Ucap Pak Yatno sambil menyerahkan kertas jawaban Haikal yang disana tertera tulisan 100 dipojok kanan atas dengan tinta berwarna merah.

“Kriiigggg….” terdengar suara bel menggema di Lorong sekolah sebagai pertanda bahwa saatnya jam istirahat dimulai. Sebagian besar para siswa-siswi pergi ke kantin untuk mengisi perut mereka yang sudah keroncongan sejak tadi. Tapi berbeda dengan Haikal. Dia biasanya akan tetap dikelas guna menjajakan donat-donat yang dibuat bersama ibunya. Berhubung tadi Haikal dipanggil oleh Pak Yatmo, maka Haikal titipkan pada teman yang bisa dipercaya menjual donat buatannya.

“Krek” suara decitan pintu dibuka. “Assalamualaikum,” ucap Haikal.

Terlihat didalam ruangan tersebut hanya ada guru yang memanggilnya kesini. Tidak lain adalah Pak Yatmo. “Waalaikumussalam,” jawab Pak Yatmo. Pak Yatmo pun mempersilakan Haikal duduk didepan beliau. Di depan Pak Yatmo terdapat dua buah kursi yang biasa digunakan para tamunya duduk.  Terjadilah percakapan singkat antara guru dengan murid tersebut. 10 menit berlalu dengan cepat. Sebenarnya, Haikal tidak terlalu mendengarkan guru didepannya itu. Tapi Haikal faham bahwa inti dari percakapan tadi adalah bahwa Haikal akan diikutkan lomba sains tingkat provinsi mewakili mapel matematika dari sekolahnya. Haikal juga dituntun mempersiapkan diri untuk mengikuti lomba tersebut. Tanpa fikir panjang Haikal menyetujui apa yang diucapkan Pak Yatmo. Karena memang dari dulu Haikal menyukai Matematika, tapi semenjak masuk SMA, Haikal tidak pernah diikutkan lomba lagi. Dulu Haikal pernah mendapatkan juara dua sekabupaten dan harapan 1 Provinsi. Dan dua-duanya adalah mapel yang sama yaitu Matematika. Dan kali ini Haikal yakin akan berusaha untuk memenangkan lomba ini. Dan meraih mimpinya untuk menjadi seorang guru matematika yang hebat.

Satu minggu telah berlalu. Dalam satu minggu itu juga, Haikal sudah dapat beberapa kali bimbingan dari Pak Yatmo selaku pembimbingnya dan belajar  secara mandiri baik dirumah maupun disekolah.

“Brak.” Suara meja Haikal yang dipukul keras. Sontak Haikal melonjak kaget.

“Woi miskin, lo ngundurin diri lomba itu, atau lo bakal dapat akibatnya!” ancam seseorang yang berada didepannya. Haikal terkejut ketika melihat siapa yang barusan mengancamnya. Dia adalah Yudi dari kelas XI-A. Yudi juga diikutkan lomba seperti Haikal. Namun, bedanya Haikal mapel Matematika dan Yudi mapel Fisika.Yudi juga terkenal perlakuan buruknya pada murid lain. Katanya dulu dia juga pernah ikut balap liar. Yudi kesini juga tidak sendiri, ditemani oleh Rian dan Ray. Mereka adalah teman dekat Yudi yang selalu ikut kemana Yudi pergi.

“Lah, emang kenapa kalau gue ikut lomba itu?” tanya Haikal polos.

“Orang miskin seperti lo, mending gak usah ikut lomba, malah nyusahin nanti. Mending bantu ibu lo buat nyari uang biar cepet kaya.” Ujar Yudi.

“Biar gue miskin tapi gue punya keinginan. Lagian ini juga amanah dari Pak Yatmo.” Ucap Haikal tanpa rasa takut-takutnya.

“Baiklah gue bakal ganggu elo hingga lo ngundurin diri dari lomba itu.” Bentak Yudi sambil menunjuk kea rah hidung Haikal.

“Ayo cabut,” teriak Yudi kepada kedua temannya.

Keesokan harinya, nampaknya Yudi tidak main-main dengan ucapannya kemarin. “Brug,” Yudi menyenggol dengan sengaja Haikal yang sedang berjalan. Haikal terjatuh dengan dagangannya yang jatuh ke lantai. Bukannya minta maaf, Yudi mengejek Haikal serta mencaci makinya. Haikal pun tersulut emosinya, tapi ketika ia marah Haikal teringat perkataan ibunya di suatu hari, “Haikal, ingat Allah itu suka kepada hambanya yang selalu bersabar, sabar terhadap cobaan yang Allah berikan. Allah juga tidak bakal memberi kita cobaan yang tidak bisa kita lalui.” Haikal pun lebih memilih memasukkan donat-donat yang sudah terjatuh untuk dibawa pulang dan tidak menjualnya kepada teman-temannya. Dalam waktu bersamaan Yudi dan teman-temannya pergi meninggalkan Haikal seorang diri tanpa meminta maaf sekalipun pada Haikal.

Perlakuan-perlakuan yang dilakukan Yudi kepada Haikal nampaknya semakin lama semakin kasar saja. Bahkan itu tidak dilakukan satu dua kali melainkan hampir setiap hari. Selama itu pula Haikal tetap berusaha sabar atas semua perbuatan Yudi yang dilakukannya. Bukannya Haikal takut melaporkannya kepada kepala sekolah, tapi Haikal ingin membalas semua kejahatan dengan kebaikan yang selalu ibunya ajarkan.

Pernah suatu ketika perlakuan Yudi kepada Haikal sangat keterlaluan “Kring,” bel berbunyi nyaring pertanda sekolah telah usai dan para siswa diperbolehkan pulang. Secara bersamaan dengan bel, Haikal bersama siswa lainnya keluar kelas dan pergi membelakangi kelas mereka. Bukannya pulang, Haikal malah pergi ke kamar mandi untuk buang air kecil. Tanpa Haikal sadari Yudi dan Rian mengikuti Haikal dari belakang. Yudi nampaknya punya niatan buruk kepada Haikal.

Waktu Haikal keluar dari kamar mandi, dia dikejutkan oleh dua orang yang sangat tidak ingin Haikal temui disekolah. Dua orang yang dimaksud tidak lain dan tidak bukan adalah Yudi dan Rian. Yudi berjalan mendekati Haikal. Haikal pun hanya berdiri mematung dengan perasaan tidak enak kalau ia akan dijahati lagi. Ternyata benar dugaan Haikal. Tiba-tiba Yudi melayangkan tinju kearah perut dan pipinya serta tendangan keras di kaki yang menyebabkan Haikal terjatuh. Saat dirasa puas, Yudi dan Rian pergi. Sebelum Yudi benar-benar pergi dia bilang, “ini belum seberapa. Lain kali mungkin bakal lebih dari ini.” Yudi pun berlalu pergi meninggalkan Haikal yang mengerang kesakitan. Haikal berusaha berdiri dan membetulkan bajunya yang kucel karena ulah mereka tadi. Setelah dirasa sudah cukup rapi,  Haikal mengambil tasnya yang tergeletak di lantai. Haikal lalu pulang dengan kaki kiri pincang yang mengeluarkan darah. Badannya yang terasa sakit disana sini, serta bibirnya yang sedikit sobek karena pukulan keras dari Yudi hingga mengeluarkan darah dan mengotori bajunya. Sebenarnya Haikal tadi sudah mencoba melindungi dirinya dari pukulan Yudi. Tapi Haikal tidak bisa menangkis semua pukulan Yudi.

Tanpa mereka sadari, sebenarnya ada orang lain yang merekam kejahatan Yudi dan teman-temannya kepada Haikal sejak awal Yudi mengganggu Haikal. Semua rekaman itu ia ambil secara diam-diam agar tidak ketahuan.

Keesokan harinya Haikal tetap berangkat sekolah walau ia belum benar-benar pulih.

“Haikal.” Baru saja Haikal duduk di tempat duduknya. Tiba-tiba Haikal mendengar Namanya dipanggil seseorang dari arah pintu. Haikal memutar otaknya berusaha mengingat siapa gadis yang baru saja memanggilnya. Tapi tetap saja Haikal tak mengenalnya.

‘Iya, ada apa?” tanya Haikal sopan pada gadis tersebut.

“Tadi lo, dipanggil Pak Bambang katanya lo disuruh keruangannya sekarang.” Jawab gadis tersebut, yang masih ditempat semula.

Haikal pun berfikir sebentar “Kenapa aku di panggil Pak Bambang? Perasaan aku gak pernah melanggar peraturan.” Haikal kebingungan.

Waktu Haikal ingin menanyakan perihal kenapa Haikal bisa dipanggil Pak Bambang kepada gadis tadi, saat Haikal menoleh ketempat gadis tadi berdiri, ternyata gadis tadi sudah tidak ada di tempat dia berdiri.

Assalamualaikum,” ucap Haikal ketika sedang membuka pintu ruangan Pak Bambang.

Waalaikumussalam.” jawab orang-orang yang berada didalam secara hampir bersamaan. Haikal dapat meihat orang-orang di dalam ruangan BK. Bukan hanya dirinya dan Pak Bambnag tetapi ada tiga orang disebelah kanan Pak Bambang. Haikal masih bingung kenapa Haikal  disuruh kesini dan kenapa Yudi dan kawan-kawannya yaitu Rian dan Ray juga disini.

“Maaf ya pak, kenapa Bapak manggil saya kesini?” tanya Haikal sopan setelah Haikal duduk disebelah kiri Pak Bambang yang berhadapan langsung dengan Yudi dan kawan-kawannya.

“Begini Haikal sebenarnya bapak memanggil kamu kesini untuk meluruskan masalah kalian berempat.” Jawab Pak Bambang.

“Maaf ya Pak. Sepertinya kami tidak punya masalah satu sama lain,” ucap Haikal yang tentu saja berbohong.

“Sudahlah Haikal, kamu jangan membela mereka. Sebenarnya bapak sudah tahu kelakuan yang Yudi lakukan pada kamu. Bapak sebagai guru BK disekolah ini merasa bahwa perbuatan yang Yudi lakukan sudah kelewat batas dan Bapak juga malu karena baru mengetahuinya sekarang.” Jelas Pak Bambang Panjang lebar.

“Bapak tahu kelakuan Yudi dan teman-temannya, karena bapak mendapat beberapa rekaman ketika Yudi membully kamu. Seperti waktu kalian di kamar mandi kemarin.”

Sebenarnya Haikal merasa sangat senang karena masalah ini sudah diketahui guru, tapi disisi lain Haikal juga merasa kasihan kepada Yudi dan teman-temannya.

“Maaf Pak, saya mohon permasalahan ini jangan diperpanjang lagi. Mungkin dengan adanya kejadian ini mereka bertiga bisa berubah.” Ucap Haikal sambil melihat kearah Yudi yang masih tetap menundukkan kepala dan tidak mau bicara.

“Baik lah, Bapak tidak akan memperpanjang masalah ini. Tapi Bapak akan tetap melaporkan masalah ini ke orang tua kalian dan memanggil orang tua kalian ke sekolah.” Ucap Pak Bambang sambil melirik kea rah Yudi, Rian, dan Ray.

“Sekarang, berikan surat ini kepada orang tua kalian.” Lanjut Pak Bambang sambil menyodorkan surat satu-persatu kepada muridnya, selain Haikal.

 

Paginya orang tua mereka datang ke sekolah untuk memenuhi panggilan. Setelah orang tua mereka tahu kenapa mereka dipanggil kesini dari Pak Bambang selaku guru BK di sekolah ini, kekecewaan timbul pada anaknya.

“Bapak tidak menyangka kamu melakukan hal seperti ini, hanya karena dia mengikuti lomba seperti kamu dari golongan yang kurang mampu. Padahal bapak tidak pernah mengajarkan kamu seperti ini.” Celetuk Pak Angga selaku Ayah Yudi.

Terdengar juga beberapa nasihat dari orang tua mereka kepada anaknya, agar menjadi pribadi yang lebih baik dan tidak mengulangi kesalahan mereka lagi. Serta tidak sedikit pula ungkapan kekecewaan yang dikeluarkan dari mulut mereka.

Meraih mimpi dan cita-cita itu butuh perjuangan, status sosial bukanlah penghalang. Selagi kaki masih bisa melangkah, tangan masih bisa berbuat, otak masih bisa berfikir, hati masih bisa merasa, dan mulut masih bisa untuk berdo’a kepada sang kuasa, kita semua masih mempunyai kesempatan yang sama. Mari kita bercita-cita dan bermimpi.

TAMAT

25-Maret-2024

#CERPEN

Facebook
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories

Most Popular

Copyright © 2025 MA NU ALMUSTAQIM. All rights reserved.