Artikel

Seringkali kata Literasi ini hanya sebagai kemampuan dan membaca. Memang benar dalam kamus KBBI Literasi yang artinya kemampuan menulis dan membaca.

Santri dan Jihad Merawat Kebhinnekaan

Oleh: Sholahuddin

 

Persiapan tradisi sedekah laut di pantai baru Pandansimo Bantul Yogyakarta dirusak oleh kelompok yang tidak dikenal dan mereka menggunakan cadar. Mereka beralasan tradisi tersebut bertentangan dengan nilai-nilai yang menjadi pilar penting pada suatu agama. Dan tradisi tersebut bisa membawa kepada kemusyrikan. Kejadian ini terjadi pada hari Minggu, 14 Oktober 2018. Beberapa hari yang lalu juga viral video yang memeperlihatkan seseorang marah dan memaki di mesjid karena ada sebagian pemuda yang memainkan rebana didalam mesjid tersebut.

Kejadian ini menjadi perhatian penting bagi kita semua, karena terjadi di daerah Bantul yang masuk wilayah Yogyakarta. Yogyakarta adalah provinsi yang dideklarasikan sebagai kota toleransi atau the city of tolerance. Sebagai kota meeting point dan melting pot, Yogyakarta memiliki kekhasan dan keunikan yang berbeda dengan kota-kota lain di Indonesia. Yogyakarta adalah tempat bertemunya para mahasiswa/mahasiswi dari berbagai antero negeri untuk menimba ilmu dan teknologi. Pantas jika Yogyakarta dijuluki dengan kota pelajar.

Mereka datang ke Yogyakarta tentu dengan berbagai latarbelakang sosial, budaya, adat, kebiasaan yang dibawa dari kampung ke Yogyakarta. Sehingga kejadian ini sungguh menjadi noktah merah bagi Yogyakarta sebagai the city of tolerance itu. Hari santri tahun ini mengangkat tema Jihad santri jayakan negeri, termasuk diantaranya adalah jihad untuk merawat kebhinnekaan. Lokalitas bukanlah sesuatu yang perlu untuk dijauhi dan buang. Tetapi lokalitas sebagai basis dari tradisi yang sudah hidup mengakar dimasyarakat perlu untuk ditumbuhkebangkan dan dipupuk.

Perusakan dan klaim bahwa tradisi sedekah laut sebagai kemusyrikan adalah bentuk dari klaim sepihak dari oknum yang anti terhadap tradisi dan lokalitas.  Hal ini menjadi bibit-bibit intoleransi yang perlu untuk mendapatkan penanganan dari aparat. Bibit ini bila dibiarkan akan terus tumbuh dan merusak kebhinnekaan yang sudah terjalin dengan harmonis di dalam kehidupan masyarakat.

***

Hari santri nasional yang jatuh pada tanggal 22 oktober 2023 dimaknai sebagai ikhitiar santri untuk terus merawat kebhinnekaan dan kemajemukan didalam masyarakat. KH Abdurrahman Wahid, guru bangsa dan presiden ke-4 RI—-memiliki konsep yang menarik untuk diteladani. Gus Dur menelorkan istilah pribumisasi Islam.

Ternyata masih banyak juga orang yang kurang bisa memahami apa yang telah dilontarkan Gus Dur tentang pribumisasi Islam. Orang tersebut kemudian mengatakan bahwa Gus Dur anti terhadap budaya Arab. Islam sebagai agama memang telah diturunkan oleh Allah di Mekah, Saudi Arabia. Tetapi ajaran-ajaran Islam adalah ajaran yang universal atau shalil likulli zaman wal makan (relevan untuk setiap waktu dan tempat). Budaya Arab adalah sekedar budaya yang tentu bisa diikuti bisa juga tidak. Disinilah gagasan Gus Dur tentang pribumisasi Islam seringkali banyak disalahpami. Mereka, yang tidak suka Abdurrahman Wahid, menuduh Gus Dur merubah Assalamualaikum dengan selamat pagi dan lain sebagainnya,

Gagasan Pribumisasi Islam yang telah ditawarkan Gus Dur sebetulnya sangat relevan,  gagasan tersebut bertujuan untuk bagaimana Keislaman dapat mengakomodasi dan menyerap budaya lokal. Ajaran universalisme Islam perlu untuk dikontekstualisasikan dalam ke-Indonesiaan. Ajaran Islam universal yang tertuang dalam maqashid syari’ah (tujuan syari’at) adalah jaminan Islam atas lima hak dasar manusia, diantarannya adalah hak hidup (hifdz an-nafs), hak atas kekayaan (hifdz al-mal), hak atas kepercayaan dan agama (hidz din), hak keturunan (hidfz an-nasab), kemerdekaan beropini (hifdz al-aql).

Selain dimensi universalisme Islam diatas, Islam juga tampil dengan kreatif mampu mengakomodir budaya lokal. Dengan pribumisasi Islam, Gus Dur ingin mengkontekstualisasikan Islam untuk umat Islam Indonesia, yang berbeda dengan konstruksi Islam yang ada di Arab Saudi.

Salah satu ungkapan Gus Dur yang menandai secara bernas dan baik tentang pribumisasi Islam adalah sebagai berikut: ”Islam datang bukan untuk mengubah budaya leluhur kita menjadi budaya Arab, bukan untuk mengubah aku menjadi ana, sampeyan menjadi antum, sedulur menjadi akh, kita pertahankan milik kita, kita harus filtrasi budayanya  tapi bukan ajarannya”.

****

Hari santri merupakan penghargaan yang diberikan pemerintah Jokowi atas jasa para santri, terutama santri dan Kiai Nahdhatul Ulama’, dalam perjuangan mereka mengusir penjajah. Tanggal 22 oktober dipilih merujuk kepada semangat resolusi jihad yang digelorakan oleh Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari.

Resolusi Jihad berisi poin-poin penting yaitu, kwajiban berjihad bagi setiap umat Islam yang hidup dan tinggal 100 KM dari Surabaya. Kwajiban ini adalah tergolong fardhu ain dan termasuk jihad fi sabilillah. Dari fatwa ini kemudian terjadilah peristiwa perang 10 november dengan Soetomo sebagai komandannya.

Jasa yang lain dari para santri dapat dilihat jiprah KH Abdul Wahid Hasyim yag telah menduduki selama 5 pereode dalam kabinet. Dengan visioner KH Abdul Wahid Hasyim membangun Perguruan Tinggi Agama Islam pertama di Indonesia. Prof Imam Suprayogo mengatakan bahwa apa yang dilakukan oleh KH Wahid adalah lompatan yang besar dan visoner menyangkut pembangunan peradaban manusia dan pendidikan Islam di Indonesia. Dari lembaga inilah kemudian lahir para tokoh-tokoh bangsa yang menjadi barisan santri baru, Prof Nurcholish Madjid, Prof Syafi’i Ma’arif, KH Husein Muhammad, DR KH Ma’ruf Amin dan lain sebaginya.

Mereka semua memberikan kontribusi yang aktif dalam pengembangan Islam yang afirmatif terhadap nilai-nilai budaya lokal, nilai-nilai Islam yang memberikan rahmat kepada sesama dan kepada alam semesta. Kejadian pengrusakan tidak akan terjadi jika pihak penyerang lebih mengedepankan cara dialogis dalam pemecahan masalah. Dengan dialog, perbedaan interpretasi terhadap budaya sedekah laut akan bisa diatas dan dimungkinkan munculnya saling memahami. Dengan dialog diharapkan pihak yang anti budaya diharapkan akan merubah carapandang dan perspektif mereka tentang suatu budaya. Wallahu A’lam Bi Shawwab.

*Sholahuddin, M.A, Alumnus Center for Religious and Cross-cultural Studies (CRCS) Sekolah Pascasarjana UGM Yogyakarta, dan Kepala Madrasah Aliyah NU Al-mustaqim, mukim di Jepara.  

Facebook
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories

Most Popular

Copyright © 2025 MA NU ALMUSTAQIM. All rights reserved.