Artikel

Seringkali kata Literasi ini hanya sebagai kemampuan dan membaca. Memang benar dalam kamus KBBI Literasi yang artinya kemampuan menulis dan membaca.

Menjaga Tahun Politik Dengan Meniru Nabi Muhammad SAW

Oleh: Sholahuddin*

 

Tahun ini, 2023, adalah tahun politik, dilayar televisi dan dunia perpolitikan kita dapat melihat bagaimana para elit partai politik bermanuver didalam pencarian koalisi untuk mendapatkan bakal calon presiden dan wakil presiden pada pemilu tahun 2024 yang akan datang. Sejauh ini ada tiga kandidat calon presiden, Ganjar Pranowo, Anies Rasyid Baswedan dan Prabowo Subianto. Peringatan maulid nabi yang diperingati umat Islam seantero dunia setiap tanggal 12 rabiúl awal perlu untuk direfleksikan dengan meneladani nabi Muhammad SAW dalam berpolitik. Bagaimana nabi Muhammad SAW memberikan teladan kepada kita dalam berpolitik?

Inilah refleksi yang perlu kita gaungkan dalam konteks Maulid nabi tahun ini. Nabi Muhammad mengutamakan akhlaqul karimah dalam berpolitik dan tidak pernah melakukan fitnah terhadap orang atau tokoh yang tidak menyukainya.

‘***

Tonggak politik nabi dapat dilihat dalam tarikh Islam yaitu ketika nabi berhasil membangun masyarakat madani, di Madinah. Di Madinah nabi tidak hanya sebagai pemimpin agama namun juga pemimpin negara, negara Madinah. Di Madinah nabi Muhammad menancapkan tonggak Negara-bangsa (nation-state) yang kelak menjadi masyarakat madani. Kepemimpinan Islam berpijak dari bagaimana Muhammad SAW memimpin dan membuat konstitusi yang disebut dengan piagam Madinah.

Sebelum kedatangan nabi Muhammad SAW, Madinah bernama Yatsrib, penduduknya majemuk terdiri dari berbagai macam suku, diantara yang paling besar adalah suku Aus dan khazraj. Serta terdiri dari multi agama; Majusi, Yahudi, Sabií, Nasrani dan lain sebagainya. Nabi Muhammad hadir di Madinah ketika itu membawa misi perdamaian, beliau diminta menjadi penengah konflik yang terjadi antara suku Aus dan khazraj.

Nabi kemudian merubah nama Yastrib menjadi Madinah yang mana terkandung didalamnya suatu cita-cita untuk membangun masyarakat yang beradab. Nabi kemudian meletakkan dasar-dasar peradaban dengan membuat suatu piagam yang terkenal dengan nama piagam Madinah (mitsaqul Madinah).

***

Kepemimpinan politik yang dikembangkan oleh Nabi Muhammad SAW adalah kepemimpinan yang didasarkan atas nilai-nilai profetik, yaitu sidiq (jujur), tabligh (menyampaikan), amanah (integritas) dan fatonah (cerdas). Kepemimpinan model seperti inilah yang sekarang perlu dicontoh dan diteladankan oleh para elit politik yang ada ditanah air. Bukan malah mempertontonkan fitnah, menelikung dan melakukan pembunuhan karakter lawan politiknya.

Seorang sosiolog Muslim kenamaan, Ibn Khaldun menyatakan al-Nas ‘ala Dini Mulukihim bahwa pemimpin memiliki peran besar dalam membentuk perkembangan masyarakat. Hingga pada masalah agamapun mereka lebih cenderung mengikuti pemimpinnya (Muqaddimah Ibn Khaldun: 29).

Teori di atas mirip dengan apa yang ditemukan oleh psikolog dan sosiolog modern Magdogal (Inggris) dan Tard (Perancis) yang mengatakan, bahwa faktor yang menyebabkan timbulnya perkembangan dalam masyarakat berasal dari hasil kerja dan  rekayasa para pemimpinnya, para pembaharu dan ahli pikir (A.A. Wafi, 1985:135).

Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia, figur pemimpin sangat dibutuhkan untuk menjadi teladan bagi para pengikutnya. Dalam Negara demokrasi, peran rakyat dituntut secara efektif sebagai kontrol roda pemerintahan yang diamanahkan kepada pemimpin. Oleh sebab itu seharusnya lembaga legislatif benar-benar menjadi wakil rakyat dan berfungsi sebagai agen rakyat yang aspiratif dan distributif (agent of aspiration and distribution). Keberadaan wakil rakyat didasarkan atas pertimbangan, bahwa tidak mungkin semua rakyat dalam suatu negara mengambil keputusan karena jumlahnya yang terlalu besar. Oleh sebab itu kemudian dibentuk dewan perwakilan.

Di sini lantas prinsip amanah dan tanggung jawab (credible and accountable) menjadi keharusan bagi setiap anggota dewan.  Sehingga jika ada tindakan pemerintah yang cenderung mengabaikan hak-hak sipil dan hak politik rakyat, harus segera ditegur. Itulah perlunya perwakilan rakyat yang kuat untuk menjadi penyeimbang dan kontrol pemerintah. Kondisi ini justru sebaliknya di negeri kita. Di tengah-tengah penderitaan rakyat seperti ini justru mereka menikmati tunjangan yang melimpah. Pemandangan seperti ini jelas sangat kontras dengan prinsip dan fungsi legislasi di atas.

Masih menurut Imam Ibnu Khaldun, kepemimpinan atau khilafah adalah mengajak kepada seluruh rakyat menuju kepada arah yang sesuai dengan syara’ demi mencapai kemaslahatan dunia dan akhirat. Ia sepakat dengan Imam Al-mawardi bahwa pemimpin adalah pengganti nabi Muhammad SAW, dengan tugas mempertahankan agama dan menjalankan kepemimpinan dunia, yaitu menciptakan rasa aman, keadilan, kemaslahatan, menegakkan amar ma’ruf dan nahi mungkar, mengayomi rakyat, mengatur dan mengayomi masyarakat.

*****

Salah satu prinsip yang perlu diteladani dari kiprah politik nabi Muhammad SAW adalah keadilan. Bagaimana beliau menjunjung prinsip keadilan ini dalam segala kebijakan kenegaraan. Nabi bersabda law saraqat fatimatu binti muhammadin laqata’tu yadaha (jika Fatimah putri Muhammad mencuri maka sungguh akan aku potong tagannya). Apa yang dikatakan nabi Muhammad ini menggambarkan equality behind the law (persamaan dihadapan hokum). Bukan hukum tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Prinsip keadilan inilah yang akan membawa kepada negara yang adil dan Makmur.

Prinsip keadilan inilah yang juga merupakan salah satu tema penting yang didedahkan oleh Al-qur’an, menurut Prof Quraisy Syihab bahwa keadilan yang di tuntut oleh Al-qur’an tidak hanya keadilan dalam hal hukum, menimbang saja, melainkan alqur’an juga menuntut keadilan kedalam diri kita sendiri, baik ketika berucap, menulis dan bersikap dalam batin.

Alqur’an memandang kepemimpinan sebagai perjanjian ilahi yang melahirkan tanggungjawab menentang kezaliman dan menegakkan keadilan, dalam konteks ini Al-qur’an menjelaskan dengan tandas; “sesungguhnya Aku akan menjadikanmu wahai Ibarahim pemimpin untuk seluruh manusia, Ibrahim berkata: saya bermohon termasuk juga keturunan-keturunanku, Allah berfirman: perjanjianku tidak akan diterima oleh orang-orang yang zalim. (Al-baqoroh: 124)

Keadilan adalah syarat bagi terciptanya kesempurnaan pribadi, standart kesejahteraan masyarakat, dan sekaligus jalan terdekat menuju kebahagiaan ukhrawi. Semoga para elit politik kita mampu meneladani nabi Muhammad SAW dalam langkah politik dan kenegaraan mereka.

Wallahu A’lam Bi Ashowwab.

*Sholahuddin, MA, Kepala MA NU Al-mustaqim & Ketua PC Aswaja NU Center Jepara.

Facebook
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories

Most Popular

Copyright © 2025 MA NU ALMUSTAQIM. All rights reserved.