Oleh: Sholahuddin, MA
Hijrah dalam kamus Al-Munawwir secara leksikal berasal dari kata hajara yahjaru hajran yang berarti memutuskan, atau meninggalkan dari satu hal kepada yang lainnya. Hijrah secara historis adalah perpindahan Nabi Muhammad SAW beserta dengan sahabatnya dari Makkah ke Madinah, setelah hampir tiga belas tahun berdakwah di Makkah dengan jumlah pengikut belasan. Mereka yang hijrah disebut dengan kaum Muhajirin, mereka adalah kaum yang terpaksa migrasi dari Makkah ke Madinah akibat penyerangan kaum Quraisy yang tidak menerima ajaran Islam. Kaum Muhajirin ini memilih untuk bermigrasi karena ingin menyelamatkan diri. Kaum Muhajirin banyak mendapatkan kesengsaraan selama mempromosikan Islam kepada kaum yang belum memeluk agama Islam. Kisah ini kemudian mendapat perhatian khusus dari Nabi Muhammad sehingga kebaikannya terukir dalam Al-qur’an.
Yastrib adalah nama kota dimana Nabi Muhammad beserta sahabat Muhajirin bermigrasi, setelah menetap disana Nabi Muhammad mengganti nama Yastrib menjadi Madinah, menurut Prof Nurcholish Madjid mengandung visi dan misi nabi Muhammad untuk membentuk peradaban. Peradaban yang terlalu modern menurut zamannya. Di Madinah, nabi meletakkan dasar-dasar persaudaraan dengan beberapa elemen masyarakat yang ada disana. Komposisi penduduk Madinah lebih heterogen dibandingkan dengan Makkah, oleh karena itu nabi meletakkan dasar-dasar ukhuwwah (persaudaraan) diantara mereka.
***
Setelah meletakkan dasar persaudaraan itu kemudian nabi membangun Madinah menjadi kota berperadaban. Di Madinah nabi tidak hanya menjadi pemimpin keagamaan, yang menjadi referensi bagi para sahabatnya, tetapi juga menjadi pemimpin politik dan pemerintahan. Beberapa cendekiawan Islam kemudian merujukan Madinah ini menjadi prototipe masyarakat madani atau dalam bahasa Al-qur’an baldatun toyyibatun wa rabbun ghofur.
Sungguh nabi Muhammad telah meletakkan eksemplar peradaban yang agung kepada kita semua, tetapi sekarang umat Islam mengalami keterpurukan. Seorang penulis Syakib Arsalan, sahabat erat Rasyid Ridha, mengarang buku limadza taakhara al-muslimun wa taqaddama ghoiruhum (kenapa umat Islam terbelakang sedangkan yang lainnya maju). setelah hampir 70 tahun buku itu ditulis, bagaimana kondisi umat Islam sekarang ini? kita menyaksikan dunia arab terus bergolak, maka tak heran jika kemajuan Islam diharapkan dari Indonesia dan Islam di kawasan Timur tengah.
Islam Nusantara dan Islam Berkemajuan
Prof John El posito memprediksikan bahwa Islam Indonesia dan Malaysia merupakan harapan akan kemajuan Islam dunia. Indonesia menjadi harapan karena di sini terdapat dua ormas Islam terbesar, NU dan Muhammadiyah, yang senantiasa bekerjasama dalam diseminasi Islam yang damai, toleran dan afirmatif kepada nilai-nilai kemajuan. Kontekstualisasi ajaran-ajaran Islam yang dilakukan oleh para wali dengan menghargai hak-hak dasar masyarakat serta menghargai budaya, kesenian dan kearifan masyarakat local maka penyebaran Islam relative tanpa resistensi. Sunan Giri misalnya menghadirkan dakwah Islam melalui permainan anak-anak dan Sunan Kalijaga membuat Wayang.
Sementara Islam berkemajuan Muhammadiyah menjadi garda depan dalam Pendidikan dan juga kesehatan. Berbagai Lembaga Pendidikan, SD, SMP, SMA dan Universitas didirikan untuk memberikan pencerahan (aufklarung) kepada anak bangsa. Tidak hanya itu Muhammadiyah juga mendirikan rumah sakit diberbagai pelosok negeri untuk memberikan pertolongan kepada mereka yang sedang sakit.
****
Tantangan terbesar bagi dua janus Islam diatas adalah pada tahun mendatang, 2024, dimana akan digelar hajatan besar pemilihan umum 2024 untuk memilih wakil rakyat dan juga presiden dan wakil presiden . Dua janus keislaman ini harus mampu untuk meredam politik identitas dan aliranisme yang membahayakan iklim dan kultur demokrasi kita. Momentum satu Muharram 1445 Hijriyah ini menjadi penting untuk kebangkitan Islam Nusantara dan Islam yang berkemajuan untuk membendung politik identitas. Wallahu A’lam Bi Ashowab.
*Sholahuddin, MA, Kamad MA NU Al-Mustaqim, Ketua PC Aswaja NU Center Jepara dan Alumnus CRCS Pascasarjana UGM Yogyakarta
Jepara, 19 Juli 2023