Artikel

Seringkali kata Literasi ini hanya sebagai kemampuan dan membaca. Memang benar dalam kamus KBBI Literasi yang artinya kemampuan menulis dan membaca.

Berawal Dari Toilet

Oleh: Ismail Fikri

(Alumni MIPA MA NU AL-Mustaqim 2023)

Ya, anak tinggi berotot itu bernama Ahmad. Seorang santri Pondok pesantren Al-fiyah yang terletak di salah satu desa di Jepara. Baru kemarin tepatnya ahad sore, ia diantarkan ayahnya ke penjara suci tersebut. Tak seperti santri baru lainnya yang menangis dan ingin pulang, justru ahmad gembira dan senang saat berada di pondok. Apalagi ketika ayahnya pulang setelah mengantarkannya. Seakan-akan, ia bebas dari penjara. Mungkin karena orang tuanya mendidiknya dengan keras, sehingga demikian.

Singkat cerita, rabu malam setelah kegiatan pondok selesai, tepatnya sekitar pukul 9 malam, Ahmad pergi ke warung dekat pondok, guna membeli rokok. Ia tahu bahwa di pondoknya, tidak boleh merokok. Akan tetapi, ia adalah perokok aktif sejak dulu, jauh sebelum ia mondok. Oleh karena itu, ia nekat untuk merokok secara sembunyi – sembunyi.

Malam itu, toilet terasa sepi. Percikan air terdengar jelas, menandakan tidak ada seorang pun disana, sehingga ia memberanikan diri untuk menikmati tembakau ciptaan tuhan disana.

Sedot demi sedotan ia menikmati sembari menyiram jamban yang kebetulan masih ada kotoran. Suasana terasa sangat aman dan nyaman menurutnya. Hingga disaat rokoknya tersisa setengah batang, ada kang santri yang entah darimana datangnya, menuju toilet untuk memenuhi panggilan alam, yang mana toilet tersebut berisi ahmad yang sedang merokok.

Kang santri itu bernama Jono. Badannya sedikit lebih kecil dari Ahmad, dan sudah kurang lebih 3 tahun mondok di ponpes al-fiyah. “cepet kang, gantian,” kata jono sambil mengetuk pintu toilet. Ahmad yang sedang santai menikmati sebatang sukun, seketika panik karena takut ketahuan sedang merokok di dalam. Ahmad pun mematikan rokoknya yang tersisa setengah batang, dan memasukkannya kedalam saku, dengan harapan tidak ketahuan (walaupun asap rokok terlihat jelas memenuhi toilet).

Setelah beberapa saat, Ahmad keluar dari toilet dan menuju ke arah orang yang sedikit menahan berak, yang tak lain adalah kang Jono. “Silakan, Kang…”, ucap Ahmad mempersilakan kang Jono. Saat itu, Ahmad belum sempat mengenal kang Jono, lantaran baru pertama kali Ahmad melihatnya.

Melihat juniornya yang takut dan gugup, membuat Jono ingin memanfaatkan momen langka tersebut, dengan cara berpura-pura menjadi pengurus. “Kamu habis merokok ya?”, tanya kang Jono walaupun sudah mengetahui faktanya. “Tidak, Kang.” jawab Ahmad dengan harapan terhindar dari hukuman. Jujur saja. Aku tau kok, asap itu buktinya.” Ujar kang Jono sambil menunjuk asap di dalam toilet. “he…he… iya, Kang.” saut Ahmad. Rasa takut dan malu menyatu, lantaran kebohongannya terbongkar. “Tunggu aku hingga selesai, setelah itu, ikut aku ke ruanganku”. Ucap kang Jono “Baik kang.” jawab Ahmad dengan nada lirih bertanda pasrah.

Kang Jono masuk ke toilet dan memenuhi panggilan alam, yaitu BAB. Disamping itu, ia memikirkan langkah selanjutnya untuk mengerjai si polos itu. Sementara itu, Ahmad bingung dan takut memikirkan apa yang akan terjadi setelah ini, akankah di gundul?, ataukah disiram comberan seperti yang ia lihat siang tadi?, ataukah dipanggilkan orang tuanya?, yang pasti, semua itu membuat pikiran Ahmad tidak tenang.

“Dorr…” bunyi salah satu lampu di pondok yang meletus akibat konsleting listrik yang mengakibatkan listrik sekitar pondok pesantren mati. Walaupun toilet terletak agak jauh dari pondok, akan tetapi, aliran listrik masih satu jalur dengan pondok.

“Kang…kang…..masih disini kan?” suara kang Jono terdengar gemetar ketakutan, lantaran seisi toilet gelap. Sementara itu, Ahmad memilih untuk pura pura sudah pergi, dan menunggu waktu yang tepat untuk melarikan diri. “KANG…..KANG……”  suara kang Jono semakin keras. Ia mengira bahwa Ahmad sudah pergi ke pondok, dan meninggalkannya seorang diri.

Kang Jono pun meratapi nasibnya, seraya berkata “Ya Allah, ampuni hambamu ya Allah, apakah karena hambamu ini berniat menjahili sesama, dengan berpura-pura menjadi pengurus, sehingga engkau mengujiku yang takut akan kegelapan ya Allah,” seakan ia sanggat menyesalinya, ia berkata lagi “ya Allah, tolonglah hambamu ini, hamba akan berjanji tidak akan mengulanginya lagi”. “Crek-crek…” Ahmad menyalakan koreknya. Secepat kilat yang menyambar, doa Jono seketika dikabulkan oleh Allah. Jono terdiam dan bingung darimana suara itu berasal. “Kang….” Jono memastikan untuk ketiga kalinya.

“Oo…. ternyata kamu bukan pengurus to….”, ucap Ahmad. “He..he… bukan Kang, saya sungguh minta maaf ya kang, karena sudah membuatmu takut mungkin.” Ahmad memanglah anak bandel. Akan tetapi dalam hal memaafkan, ia paling merasa iba ketika mendengar kata permintaan maaf,  dan mudah melupakan kesalahan orang lain. Mungkin karena masa lalunya. “Baik Kang, saya maafkan. Tetapi, lain kali jangan di ulangi lagi ya!” jawab Ahmad. Terima kasih kang,… oh iya, boleh pinjam korekmu sebentar? Soalnya aku belum cebok, dan gayungnya tidak kelihatan.” pinta kang Jono. “Boleh, ini”. Saut Ahmad sambil memberikan koreknya lewat atas pintu toilet yang kebetulan berlubang.

Setelah kang Jono keluar dari toilet, mereka berkenalan satu sama lain, dan mulai berbincang-bincang. “Saya boleh merokok di sini kan? soalnya tanggung, ini belum habis.” Tanya Ahmad sembari menunjukkan rokoknya yang tersisa setengah batang. ”Oh, habiskan saja, tidak apa-apa kok, asalkan tidak ada pengurus, aku juga sering rokok di sini. Tapi sekarang aku tidak punya rokok nih, boleh join tidak?” tanya Jono sambil malu-malu. ”Boleh kok,” jawab Ahmad. “Oh, terimakasih banyak,” ucap Jono. ”Sama-sama,” jawab Ahmad.

“Sambil menunggu pengurus memperbaiki semuanya, bagaimana kalau kita ngobrol disini dulu? Sepertinya kalau tidak sendirian, aku tidak terlalu takut dengan kegelapan.” Tanya kang Jono. Ahmad pun menjawab “Baiklah.”

Sejak saat itu, mereka berdua menjadi sahabat yang sulit untuk dipisahkan, saling melengkapi satu sama lain, saling berbagi rokok, berbagi kebahagiaan, dan lain sebagainya. Kebersamaan mereka akan tetap ada mungkin hingga akhir hayatnya.

#CERPENPESANTREN

#CERPEN2

Selasa, 27 Juni 2023

Facebook
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories

Most Popular

Copyright © 2025 MA NU ALMUSTAQIM. All rights reserved.