Oleh : Milatul Janah
(Alumni MA NU Al-Mustaqim)
Namaku Amaila. Waktu aku lulus dari Madrasah Ibtidaiyah, ibu menawarkanku untuk melanjutkan sekolah di sekolah berbasis pesantren yang tak jauh dari rumahku. Karena waktu itu aku memang memiliki keinginan untuk mondok dan tidak tahu ingin mondok dimana, maka aku menyetujuinya.
Hal yang paling kuingat ketika aku sedang menyiapkan barang-barang yang akan kubawa ke pesantren, tiba-tiba ibuku bilang “Mengko kamu nek nakal dipondok, tanganmu dicubles mbak- mbak karo dom pentol” entah mengapa kalimat itu selalu terngiang-ngiang di otakku, membuatku membayangkan rasanya di cubles dom pentol, pasti sakit.
Hari ahad, setelah selesai mengerjakan tes masuk peserta didik baru, ibu langsung mengantarku ke pesanten. Hanya sampai pintu masuk lalu meninggalkanku karena masih ada urusan yang harus diselesaikannya.
Asrama putri ini letaknya di belakang dan sangat tertutup, bahkan jika saja mbak Ani, saudari sepupuku tidak mondok disini tahun lalu, mungkin aku tidak akan tahu kalau pesantren ini ada asrama putrinya.
Aku masuk lewat pintu belakang yang tepat disampingnya ada sebuah tangga menuju kamar-kamar santriwati. Aku menaiki tangga dengan hati-hati, saat berada di ujung tangga aku mendengar seseorang bersuara “ Kamu mei a? anaknya bu siti” aku menoleh dan mengangguk. Ibuku bekerja disini dari tahun lalu, jadi tidak heran jika banyak santri yang mengenal ibuku, bahkan ndalem sekalipun. Mbak ani datang mengahampiriku, mengajakku menuju kamarnya yang berada di sebelah kanan tangga. Aku melihat ada beberapa santriwati yang berlalu lalang, ada yang membawa ember penuh pakaian, ada yang sedang membaca Al-Qur’an bahkan ada yang tidur berjejer-jejer layaknya ikan asin yang dijemur. Kamar mbak Ani ber-cat biru, saat menginjakkan kaki ke lantai kamarnya, kakiku terasa nyess uadem. Pantas saja didalam kamarnya banyak yang tidur dengan nyenyak. Kata mbak Ani, aku akan ditempatkan sekamar dengannya, aku jadi merasa lega.
Malam hari, setelah sholat berjamaah dan makan malam, terdengar bell berbunyi begitu nyaring. Para santriwati terlihat bersiap-siap, aku bingung ada apa. Tapi di waktu yang tepat, mbak Ani datang menghampiriku dan mengajakku pergi ke aula pesantren putri untuk kegiatan istimewa malam ini, Aku hanya menurut saja. Setelah duduk di aula, aku melihat seorang mbak santri berdiri di depan membawa mic. Kata mbak pembawa mic, malam ini ada acara spesial yang di adakan setahun sekali, padahal isinya hanya perkenalan santri baru. Bukannya spesial malah bikin deg-degan untukku yang takut berbicara di depan umum. Satu persatu santri baru maju memperkenalkan diri, ssat tiba giliranku, tiba-tiba saja tubuhku panas dingin bahkan saat maju tanganku bergetar “Assalamualaikum, perkenalkan nama saya Amaila…..”
Tak terasa, 6 tahun berlalu begitu cepat. ibuku berbohong soal dom pentol karena nyatanya mbak-mbak tidak ada yang mencublesku dengan dom pentol meski aku membuat kesalahan. Setelah kelulusan Madrasah Aliyah, aku pulang kerumah. Aku berniat untuk berpindah pesantren, namun seakan takdir berkata lain. Sudah sebulan aku dirumah, Ayahku tidak bekerja sebulan ini. Jadi karena keadaan ekonomi, ayah tidak bisa mendaftarkanku ke pesantren yang kutuju.
Aku merenung, aku merindukan suasana pesantrenku. Aku bilang pada ibuku kalau aku ingin kembali ke pesantren, sambil menunggu ayah punya uang untuk memboyongkanku. Besoknya aku berangkat diantar oleh ayah, tepat di depan pintu pesantren, aku sadar bahwa pesantren ini bukan hanya sebuah pesantren, melainkan juga rumah kedua bagiku.
12-Juni-2023