Oleh: Aviskha Izzatun Noilufar, S.Pd
Hati-hati untuk adik-adik santri yang dekat dengan media sosial. Zaman di eranya digitalisasi, membuat para santri juga tidak mau tertinggal. Karena ilmu itu berkembang sesuai dengan zamannya. Sering menjadi terdengar kalimat, kalau santri itu harus bersusah-susah dahulu atau dinamakan rekoso. Anggapan itu benar terjadi, banyak santri-santri yang dulunya bekerja keras dalam menuntut ilmu ketika pulang menjadi orang yang berada. Benar apa yang dikatakan dalam firmannya dalam Al-Qur’an surat Al-Insyirah ayat 6 yang berbunyi “Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” Ketika telah mengalami kesulitan-kesulitan di Pesantren, kemudahan-kemudahan itu akan datang baik itu ketika masa di Pesantren maupun ketika sudah di rumah.
Dalam keseharian para santri tentunya akan ada beragam cerita. Dua hal tersebut yang membuat santri itu belajar hidup. Yaitu tentang menyenangkan dan menyedihkan telah dialami semua sumber daya manusia yang berada di Pesantren. Sifat menyenangkan memberikan dampak dari per individu seorang santri. Terkadang tidak adanya teman, tidak ingin jauh dari orang tua, bosan, bahkan terkadang pertengkaran antar teman dan alasan-alasan yang lain. Berawal dari situlah bisa dikatakan Pesantren tidak menyenangkan. Di Pesantren adalah tempatnya untuk belajar hidup. Menyenangkan akan ada jika mengerti apa artinya menyenangkan dalam Pesantren. Dalam kamus KBBI menyenangkan merupakan menjadikan senang atau membuat bersuka hati.
Menjadikan senang semua yang ada di Pesantren dari sumber daya manusianya, lingkungannya, bahkan tumbuh-tumbuhan pun ikut menikmatinya. Menyenangkan tentu mempunyai etika sebagai pilar utama dalam membangun sebuah tatanan kehidupan manusia. Dan etika itu ilmunya yang mempelajari tentang baik dan buruknya perbuatan manusia. Ketika etika itu berdiri sendiri rasanya akan ada kekurangan. Etika harus memilih kebaikan atau keburukan. Menjadi santri sebagai seorang anak dari bapak ibuk, bahkan kiai bunyai. Etika kebaikan harus selalu tertancap pada diri seorang santri.
Etika kebaikan yang tertancap pada diri santri yaitu etika cinta. Etika cinta memiliki suatu keadaan jiwa yang melakukan perbuatan baik itu kenikmatan, kebaikan, kegunaan, dan perpaduan ketiganya.
Perbuatan kenikmatan jika anak atau santri mempraktekkannya salah satunya nikmat makan bersama satu nampan dengan teman. Hal tersebut, membuat para santri apa arti dari kebersamaan. Menunggu teman-teman berkumpul, untuk makan satu nampan adalah untuk mengukur tingkat kesabaran para santri.
Perbuatan kebaikan jika dipraktekkan yang terlebih dahulu yaitu kebaikan-kebaikan kecil yaitu sadar akan lingkungan. Ketika lingkungan tersebut nyaman maka kebaikan-kebaikan yang lain akan datang menghampiri.
Perbuatan kegunaan yaitu sadar kalau suatu benda itu dipakai bukan untuk dirusak. Tapi untuk dirawat dan dijaga.
Perbuatan etika cinta itu, tidak hanya kita terapkan di lingkungan Pesantren. Tapi dimana saja dan kapan saja.
Jika ketiga perbuatan tersebut tidak terlaksana selama menjadi santri, lihatlah apakah akan terlihat kalau kamu layak untuk dijuluki santri? yang membedakan santri dengan yang tidak santri adalah etika cintanya.
Ketika menyenangkan dengan etika cinta, semua akan berjalan dengan kemudahan-kemudahan yang akan terjadi dalam hidup. Dengan etika cinta pula, yang akan membuat jiwa atau hati kita tergerak mencegah kerusakan-kerusakan di sekitar kita tanpa diperingatkan.
Menyambung juang, merengkuh masa depan
Selamat Hari Santri Nasional
Jepara, 22 Oktober 2024