Oleh: Sholahuddin
Pemahaman keagamaan seperti ini bisa hadir tidak hanya di level perguruan tinggi, melainkan juga pendidikan tingkat menengah pertama dan atas. Tidak hanya sebatas itu, radikalisme dan intoleransi juga telah merasuki anak usia sekolah, di SMA, MA dan MTS, hal ini diperkuat dengan data yang telah dikeluarkan oleh PPIM UIN Jakarta yang mengatakan bahwa PPIM (Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah yang menemukan adanya intoleransi guru-guru di madrasah atau sekolah mulai dari RA (Raudhotul Athfal) hingga tingkatan MA (Madrasah Aliyah). Dari penelitian tersebut tergambarkan bahwa enam dari 10 guru muslim adalah memiliki pandangan intoleran terhadap pemeluk agama lain. 40.36% guru setuju bahwa seluruh ilmu pengetahuan sudah ada dalam Al Quran sehingga Muslim tidak perlu mempelajari ilmu pengetahuan yang bersumber dari Barat. 82.77% guru setuju bahwa Islam adalah satu-satunya solusi untuk mengatasi segala persoalan masyarakat. 62.22% guru setuju bahwa hanya sistem pemerintahan yang berdasarkan syariat Islam yang terbaik untuk negeri ini.Kemudian 75.98% guru setuju bahwa pemerintah harus memberlakuan syariat Islam bagi para pemeluknya. 79.72% guru setuju bahwa dalam memilih pemimpin (presiden, gubernur, bupati/walikota), umat Islam wajib memilih calon pemimpin yang memperjuangkan penerapan syariat Islam. 23.42% guru setuju bahwa pemerintahan Indonesia yang berdasarkan pada Pancasila dan UUD 1945 adalah thaghut (tirani) karena telah mengambil hak Allah sebagai pembuat hukum. 64.23% Guru setuju bahwa non-Muslim tidak diperbolehkan menjadi Presiden di Indonesia.
Radikalisme dalam buku radikalisme dalam perspektif analisis wacana (2019) memiliki beberapa ciri diantaranya penolakan secara menerus atau menuntut perubahan secara total biasanya menggunakan jalan kekerasan untuk mencapainya, dan penganutnya memiliki pemahaman kuat atau anggapan kuat bahwa yang berbeda dengan dia adalah salah.
***
Cara berfikir seperti ini biasanya dilahirkan dari cara pemahaman yang hitam-putih terhadap teks-teks agama. Orang yang memiliki pemahaman hitam-putih akan dengan mudah mengkafirkan dan memberikan cap kepada selain dirinya dengan bidáh atau melenceng dari jalan yang lempang. Momentum Idhul Adha atau yang sering juga disebut dengan Idhul Qurban adalah hari raya umat Islam untuk memeringati kesoliteran Nabi Ibrahim. Sehingga bisa menjadi fondasi keberagamaan bagi masyarakat Islam dan dijauhkan dari bibit radikalisme.
Ibrahim Sebagai Nabi Soliter
Soliter dalam tulisan ini dipahami sebagaimana yang terdapat dalam buku karya Alfred North Whitehead Religion in the Making (1926) thus religion is solitariness, and if you are never solitary you’re never religious. Dalam konteks ini manusia soliter adalah manusia yang memungkinkan agama berproses, memperbaharui diri, kearah kedewasaan yang baru dan dengan demikian diharapkan makin mendekatkan diri kepada kebenaran.
Ibrahim, sebagai bapak agama monoteisme, bukan saja teladan bagi umat Islam, melaikan juga teladan yang mulia bagi kalangan umat Kristiani dan Yahudi. Karena beliau adalah titik temu yang menyatukan tiga agama samawi tersebut. Ibarahim adalah nabi yang soliter, berproses terus untuk mencari kebenaran yang haqiqi, sehingga menemukanya. Ibrahim mengorbankan anaknya Ismail dalam rangka ketaatan kepada Allah.
Sebagai Nabi yang soliter, Ibrahim adalah sosok yang tidak puas dengan begitu saja menerima setiap informasi yang datang kepadanya sebagai sebuah kebenaran. Hal ini diillustrasikan dalam Al-qur’an surat Al-an’am ayat 76 hingga 79 Fa Lamma Janna ’alaihil Lailu Ra’a Kaukaba Qala Hadza Rabbi, Fa lamma Afala Qala, La Uhibbul A’filiin. Falamma Ra’al Qamara Bazighan Qala Hadza Rabbi, Falamma Afala Qala Lain Lam Yahdini Rabbi La’akunanna Minal Qaumidz Dhollin, Falamma Ra’a Syamsa Baazhighatan, Qala Hadza Rabbi Hadza Akbar, Falamma Afalat Qaala Ya Qaumi inni Bari’un mima Tusyrikuun. Inni Wajjahtu Wajhiya lil Ladzi fataharas samawati wal ardha hanifan wa ma ana minal musyrikin.
(Ketika malam telah menjadi gelap, dia (Ibrahim) melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: ”inilah Tuhanku” maka ketika bintang itu terbenam dia berkata, aku tidak suka kepadamu(yang terbenam). Lalu ketika dia melihat bulan terbit dia berkata: inilah Tuhanku tetapi ketika bulan itu terbenam, dia berkata: ”sungguh jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat. Kemudian ketika dia melihat matahari terbit, dia berkata: ”inilah Tuhanku ini lebih besar, tetapi ketika matahari terbenam, dia berkata wahai kaumku sungguh aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan, aku hadapkan wajahku kepada Allah yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh kepasrahan.
Ayat diatas mengillustrasikan bagaimana pengalaman Nabi Ibrahim dalam berfialog dengan kaumnya untuk menunjukkan kaumnya kebenaran, dari kaumnya menganggap bintang sebagai Tuhan, berproses dan berakhir dengan menemukan Allah dan membuang kemusyrikan.
Data tentang radikalisme diatas yang mengkhawatirkan dan juga kita melihat begitu banyak orang yang menjadi ”korban” berita hoaks, fitnah dan kebohongan, kita perlu menjaga kewarasan publik dengan meneladani sikap soliter Ibrahim AS. Ibrahim AS adalah tipologi nabi yang melakukan pengembaraan intelektual dan penjelajahan dengan akal dan budinya, serta petunjuk dari Tuhan sehingga menemukan kebenaran yang hakiki. Nabi Ibrahim adalah nabi yang soliter yaitu nabi yang mampu mengambil jarak dari narasi spesifik yang sudah mengakar didalam kehidupan kaumnya, yaitu paganisme, menuju kepada ajaran Tauhid.
Dalam prosesnya menemukan kebenaran hakiki, satu hal yang dimiliki oleh nabi Ibrahim adalah daya kritisisme dalam melihat berbagai macam fenomena alam yang ada. Daya kritisisme inilah yang penting untuk diimitasi dalam kehidupan setiap muslim di Indonesia dewasa ini. Daya kritisisme ini yang akan menjadi fondasi umat dari radikalisme yang meresahkan ini. Wallahu A’lam Bi Ashowaab.
*Sholahuddin, MA, Kepala Madrasah Aliyah NU AL-MUSTAQIM, Jepara, & Alumnus Center for Religious and Cross-Cultural Studies (CRCS) Sekolah Pascasarjana UGM Yogyakarta.
Jepara, 29 Juni 2023