Artikel

Seringkali kata Literasi ini hanya sebagai kemampuan dan membaca. Memang benar dalam kamus KBBI Literasi yang artinya kemampuan menulis dan membaca.

Hasil Akhir Sebuah pendidikan

Oleh: Misbahun Nasihin, S.Pd.I

Tujuan Akhir sebuah pendidikan. Pendidikan Islam ini berlangsung selama hidup. Maka tujuan akhirnya terdapat waktu hidup di dunia ini telah berakhir. Bulan juni tahun 2023  merupakan titik terakhir semua pendidikan dan merupakan gawe kelas  IX  di lingkungannya masing-masing untuk mengadakan kegiatan pelepasan para siswa siswi  , salah satunya adalah MTs NU Al Mustaqim Bugel kedung Jepara tepat hari Ahad, 4 Juni 2023 merupakan hari gawe  bagi lembaga Pendidikan Mts NU Al Mustaqim, pagi  yang cerah itu banyak wajah yang sumringah mungkin karena bahagia, ada yang tegang adapula yang santai santai kayak penulis ( Red ) acara demi acara terus berlalu  tepat pukul 10:29 menit datanglah sosok kyai muda yang sangat bersahaja, pendiam, sesela tersenyum kepada para tokoh di samping kanan KH. Sholahuddin, Ma, Kyai Agus Habiburrahman, AH, dan KH Raoziqin, S.Pd.I dan para guru staf pendidikan Mts Nu Al Mustaqim dan kirinya Habib ArifAssegaf Ibu Kepala MTs Ibu Hj Nor Hidayah, S.Pd.I dan ibu nyai Fatimatus Zahroh, AH dan para ibu Guru Mts NU Al Mustaqim  di halaman Mts Nu Al Mustaqim, yaitu KH Muharor Afif, LC salah satu santri Kasihan simbah KH DR. Ahmad Sahal Mahfudz Kajen, dan  aktif mengajar Kitap Ar-Rud di Matholiul Falah Kajen Margoyoso Pati  dengan suara yang penuh wibawa beliau paring pengendikan “ Hasil Akhir Pendidikan”  di madrasah atau hasil dari pendidikan di sebuah madrasah itu tidak di lihat dari para siswa di sekolah tapi bagaimana anak –anak dari peserta didik dan kembali ke kedua orang tuanya dan masyarakatnya dan dapat di terima di tengah –tengah masyrakatnya kelak. 90%  berhasil bagaimana akhlak tersebut di gunakan untuk masyrakat. Bukan dilihat dari prestasi saat proses belajar di sebuah lembaga pendidikan. Dan perlu di perhatikan bagi kedua orang tua sebelum memasukkannya ke sebuah pendidikan sebagai berikut:

pertama harus melihat latarbelakang lembaga, siapakah yang mendirikan dan siapa-siapa guru yang mengajarnya kelak. Sebab yakinlah bahwah guru- guru selalu mendoakan di saat mengerjakan sholatnya dan disaat munajatnya yang mana banyak di temukan di sekolah-sekolah umum lainnya. Sebab banyaknnya orang hanya melihat madrasah hanya dari sisi depan saja atau belakangnya saja atau melihat banyak sedikit murid sesuai dengan pendapat H. Mubangid di buku Ilmu pendidikan Islam halaman 81 di katakan bahwah syarat untuk menjadi pendidik atau guru yaitu:

  1. Dia harus orang yang beragama
  2. Mampu bertanggung jawab atas kesejahteraan agama
  3. Dia tidak kalah dengan guru-guru sekolah umum lainya dalam membentuk warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab atas kesejahteraan bangsa dan tanah air
  4. Dia harus memiliki perasaan panggilan murni ( roeping)

Dari syarat-syarat yang di kemukakan diatas dapat disimpulkan bahwa pendidik/ guru adalah orang dewasa yang harus berakhlak baik dan memiliki kecakapan mendidik. Dalam hubungan ini Ibnu Muqaffa menasihatkan bahwa barang siapa ingin menjadi imam yang tegak jiwanya sebagai imam agama dalam masyarakat, hendaklah ia memulai lebih dahulu mengajar dirinya dan mengamalkan dalam tingkah laku, atau pendapat dan pembicaranya. Mengajar dengan tingkah lakunya adalah lebih berhasil daripada mengajar dengan lisannya. Guru dan pendidik bagi dirinya lebih berhak mendapat ketinggian dan keutamaann dari pada guru atau pendidik – pendidik  terhadap orang lain.

Az-Zarnuji penyusun buku Ta’limul Mutaa’lim mengemukakan beberapa sifat guru

  1. Mempunyai kelebihan ilmu, maksudnya menguasai ilmu
  2. Wara’ ; kesanggupan menjaga diri dari perbuatan/tingkah laku yang terlarang

Abu Hanifah berkata: ”Aku dapati dia (Hammad) sudah tua, berwibawa, santun dan sabar maka menetaplah aku di sampingnya dan aku pun tumbuh berkembang.

Kedua peran kedua  orang tua sangat di butuhkkan untuk bisa menjadikan anaknya lebih baik dan tawadhu. Setiap orang cinta dan sayang kepada anak keturunannya dan berusaha dengan segala kemampuanya untuk mendidik anaknya agar dapat memacu, menimbulkan semangat beramal, berlomba-lomba dalam mencari kebajikan karena setiap orang cinta dan sayang kepada anak keturunannya dan berusaha dengan segala kemampuannya untuk mendidik anaknya agar kelak menjadi orang yang baik daan berguna.  Karena itulah maka para Nabi dari zaman ke zaman selalu berdoa agar mereka di karuniai anak yang saleh yang dapat melanjutkkan perjuangannya. Menurut ajaran Islam anak adalah amanat Tuhan kepada ibu bapak. Setiap amanah haruslah di jaga dan di pelihara, dan setiap pemeliharaan yang telah dilakukannya .

Hakikat dan fungsi amanah tentang pemeliharaan anak itu mengandung arti dan nilai yang jauh lebih luas dari pada amanah yang  lainya. Sebab di dalamnya terjalin dan melekat secara langsung kepentingan manusia, baik dilihat dari segi biologis maupunn dari segi sosiologis. Setiap orang tua terbawa oleh pertalian darah dan turunan ( biologis) di pertautkan  olleh satu ikatan ( unsur) yaang paling erat dengan anaknya, yang tidak terdapat pada hubungan-hubungan yang lain. Hubungan itu disebut naluri (instink). Tiap-tiap oraang tua mempunyai naluri cinta dann kasih kepada anaknya. Cinta dan kasih itu adalah sedemekian rupa. Sehingga setiap orang tua dengaan rela mengorbankan segala apa yang ada pada mereka untuk kepentingan anaknya.  Dilihat dari sudut sosiologisnya, orang tua berusaha supaya anaknya menjadi orang yang baik daalam masyarakat, dapat memberi manfaat untuk dirinya sendiri dan mendatangkan manfaat kepada orang lain. Untuk menuntun anak agar tumbuh dan berkembang sebagaimana tersebut di atas, maka pendekatan yang dilakukan ialah dengan jalur akal dan emosi/ perasaan. Demikian pula penndidikan terhadap anak, baik dalaam pendidikaan formal, informal maupun non formal pendekatan yang lebih mengena dan lebih tepat yaitu secara akal dan perasaan.        

   Islam memerintahkan kepada umatnya untuk mendidik anaknya agar kelak menjadi manusia yang saleh, takwa kepada Allah dan hidup bahagia di dunia dan akhirat. Rasullaah Saw bersabda yang artinya: “ Perhatikanlah anak-anak kamu dan bentuklah budi pekertinya sebaik-baiknya”.

              Pendidikan di dalam keluarga umumnya dilakukan secara informal yaitu pendidikan yaang telah menggunakan perencanaan, kurikulum , jam pelajaran dan lain-lain, tetapi kesemuanya dilakukan dengan santai tanpa dibatasi oleh tempat maupun waktu, namun di harapkan keberhasilan pendidikan sesuai dengan yaang di cita-citakan. Pada saat tertentu metode ini sangat baik digunakan.

Jepara, 25 Juni 2023

Facebook
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories

Most Popular

Copyright © 2025 MA NU ALMUSTAQIM. All rights reserved.