Artikel

Seringkali kata Literasi ini hanya sebagai kemampuan dan membaca. Memang benar dalam kamus KBBI Literasi yang artinya kemampuan menulis dan membaca.

KESUNGGUHAN SEORANG SANTRI

Oleh: Ikhlaulal Maziyah Alazha (Kelas XII MIPA MA NU AL MUSTAQIM)

 

 

Sinar pagi, menyinari rumah keduaku yang telah bertahun-tahun aku singgahi. Kulangkahkan kedua kaki dengan mantapnya niat mencari barokah sang Kyai, hingga orang-orang luar sana sudah Bersiap dan berkendara menuju banknya ilmu. Ku lihati semangat mereka yang begitu kuat, sedangkan aku, Shaquena Abda Quenara masih bersarung hitam putih dengan blouse hitam dan hijab hitam masih memegang gagang pel dan botol yang berisi super pel rasa sereh.

Few moment Letter….

Selesailah pekerjaanku pagi itu, akupun kembali ke rumah keduaku dengan santai meski bersebrangan dengan banyak orang

lembaga mereka masing-masing. Waktu menunjukkan pukul 07.05 WIB. Bel sekolahku berbunyi nyaring, aku tak menghiraukannya. Teman-temanku sudah pakai seragam, tapi aku dengan bodo amatnya tidak cepat-cepat Bersiap. Aku makan terlebih dahulu untuk mengisi energi. Lalu mandi, dan Bersiap-siap memakai baju Istimewa yang dipakai hari itu. Setengah jam lamanya aku bersiap-siap, kenapa waktunya berputar sangat cepat siiih…”  gumamku dalam hati.

Kuabaikan waktu, lalu bergegas menuju bangunan yang hijau. Ada seorang guru berpakaian batik ma’arif yang sudah berdiri lama menunggu murid-murid yang terlambat hingga aku datang.

“Ayo berdoa dulu…” ucap guru itu.

Quenara yang di situ hanya diam dan langsung nurut saja tanpa basa-basi lalu berdoa. Doa sebelum belajar sudah ku lantunkan tapi…

“Ini dibersihkan dulu…” beliau menunjuk kea rah rak Sepatu yang sangat berdebu.

“Iya bu… siap” Jawab Quenara.

Aku pun membersihkannya dengan hatiku bergumam.

“Sampai kapan begini terus, pagi-pagi disambut perasaan tergesa-gesa, pulang sekolah jam 2, belum nanti mikir cucian numpuk, ngerapiin pakaian, lanjut sekolah lagi, habis itu maghrib, ngaji, adzan isya’, kegiatan wajib, Ya Allah capek aku Hello awak, nggak boleh mengeluh terus.” Aku bergumam hingga tak terasa hukumanku selesai.

Quenara bersalaman kepada gurunya lalu masuk ke kelas.

“Bismillah…, niat ingsun belajar, nggak peduli dapat nilai bagus atau jelek yang penting tidak tidur di kelas!”

Quenara berusaha bersabar dengan hidup yang ia jalani sehari-hari.

Few moment letter.

 

7 Jam kemudian, bel pulang berbunyi…

Quenara keluar dari kelasnya bersama sahabatnya, Syakila.

“Nara…” Panggil Syakila dengan nama khusu sahabatnya.

“Setelah ini kamu bisa nggak anta raku ke pasar.”

“Ngapain…?”

“Biasa, belanja bulanan.”

“Hahaha, maaf ya… hari ini lagi nggak bisa, akua da banyak pekerjaan yang belum aku selesaikan.”

“Emang, pekerjaan apa sampai kamu nggak bisa anta raku?”

Tanya Syakila.

“Aku ada les, soalnya minggu depan aku dapat tugas untuk ikut lomba mapel se kabupaten.”

“Owalah, Iya nggak papa kalau gitu semangat yha Nara.” (Sambil memegang Pundak Quenara)

“Terimakasih, you are my best friend”

Quenara yang ingin sekali menemani Syakila untuk belanja bulanan. Kali ini ia tidak bisa menemaninya demi Amanah diberikan untuknya. Quenara pun mengikuti les dengan baik. Walaupun ia bukan murid yang pintar, akan tetapi para guru memandangnya ia mampu mengikuti lomba mapel se kabupaten.

Suara Adzan berkumandang…

Waktu salat asyar tiba,. Quenara selesai lesnya lalu ia kembali ke rumah keduanya yang bersebrangan dengan sekolahnya.

“Aduh, capeknya,” keluh Quenara.

“Kamu capek ya, Nara” ucap Syakila.

“Banget, rasanya pengen tidur.”

“Kamu pengen tidur ya tidur aja…”

“Nggak mau, akum au langsung ganti baju buat sekolah Madin.”

“Terserah…” Jawab Syakila.

Quenara merasa badannya letih setelah sepanjang pagi otaknya dipenuhi pelajaran kini Quenara tetap memaksa pergi sekolah madin karena ia sudah mau mendekati imtihan Akhirus Sannah. Waktu terus berjalan, Quenara menjalani hari-harinya dengan sabar dan Ikhlas. Meskipun ia beda dari teman-teman lainnya. Quenara pagi-pagi tidak piket ke ndalem Kyai seperti biasa lalu menjalani hari-harinya yang full. Akan tetapi, Quenara selalu disemangati Syakila.

Hari pelaksanaan lomba pun datang. Jantung Quenara berdegup kencang melihat banyaknya para peserta lomba yang pintar-pintar. Tapi dia menyemangati dirinya dan tak lupa sebelum berangkat Quenara berpamitan kepada Kyainya.

“Abah, Ara mau berangkat lomba, doakan Ara sukses ya bah…”

“Iya Ara, Abah doakan, kamu sudah lama Khidmah sama Abah, Abah selalu mendoakanmu.”

“Terimakasih bah…”

Quenara dengan santai dan cermat dalam mengerjakan soal. Dia mengumpulkannya paling akhir dari peserta yang lain. Quenara keluar dari ruangan meunuju ruangan tunggu untuk menunggu hasilnya.

“Apa aku bisa dapat juara nggak ya?” Guman Quenara.

“Padahal aku biasanya dapat ranking sepuluh besar, belajarku saja masih belum mencapai materi.”

“Kamu jangan pesimis Quenara, tidak dapat juara tidak apa-apa yang penting kamu sudah berusaha.” Ucap guru pendampingnya.

“Iya, Bu.”

Hasil lomba diumumkan, terdengar suara lantang nama Quenara disebut. Menjadi pemenang lomba mapel Bahasa Arab sekabupaten Jepara. Dengan sangat riang gembira Quenara langsung menaiki dan mengambil apresiasi yang diberikan oleh panitia. Lalu terlintas dalam benak Quenara bahwa apa yang ia kerjakan selama ini tidak lah sia-sia. Dengan niat yang tulus dan bersabar dalam menghadapi keadaan yang ada di depannya akan menghasilkan buah yang manis. Yang selama ini ia sangat impi-impikan. Bersama ridho dari sang Kyai, Quenara sadar bahwa barokah itu ada dan nyata.

 

27 Agustus 2024

#CERPEN #PESANTREN #SANTRI

Facebook
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories

Most Popular

Copyright © 2025 MA NU ALMUSTAQIM. All rights reserved.