Artikel

Seringkali kata Literasi ini hanya sebagai kemampuan dan membaca. Memang benar dalam kamus KBBI Literasi yang artinya kemampuan menulis dan membaca.

Perempuan Yang Dirindukan Syurga

Oleh: Nurul Isnaini (Alumni MA NU Al-Mustaqim & Santri Ma’had Aly Maslakul Huda Kajen Pati)

 

“Sri kau memang tak ingat atau pura-pura lupa?” Hardik seorang pria paruh baya bergaya glamor. Pak Bayan tak lain tak bukan, orang terkaya dikampung kera sakti saat ini.

“Ealah Pak Bayan, anu pak anak saya yang paling kecil sakit jadi agak rewel enggak mau saya tinggal.” Jawab Asri dengan halus.

“Halah alasan mulu, kan bisa suamimu saja yang ngurus. Lagian dia juga pengangguran kan.”

Ucap Pak Bayan bongah sambil menggosok-gosok batu akiknya yang memenuhi sepuluh jarinya.

“Iya pak, maaf. Memang saya yang salah tidak bisa datang tepat waktu.” Tutur Asri masih dengan nada yang sama, halus tanpa terpancing emosi sedikit pun.

“Heng… sudah sana langsung kerjakan pekerjaanmu. Ingat kasbon mu bulan lalu masih belum kau bayar, kerjalah dengan giat.” Peringat pak Bayan kepada asri tetap dengan nada menghardiknya yang sarkas.

 

“Baik pak, kalau gitu saya kebelakang dulu”, pamit Asri kepada Pak Bayan yang terlihat tidak menghiraukannya sama sekali.

 

Ya, namanya Asri. Perempuan paruh baya yang harus menghidupi keempat anak dan suaminya. Ia sudah lama bekerja dengan majikannya itu. Semua akan dia lakukan demi bisa menafkahi keluarganya.

 

Asri bekerja dirumah Pak Bayan sebagai asisten rumah tangga atau bahasa kasarnya ‘gundik’. Pagi-pagi sekali ia harus sudah dirumah Pak Bayan untuk membantu perkerjaan dirumah tersebut.

 

Dan sore harinya ia akan pulang kerumah untuk mengurus keluarganya. Namun ada satu pekerjaan lagi yang Asri geluti tanpa ada satu orangpun yang mengetahuinya. Ia akan pergi ke terminal yang jaraknya tidak terlalu jauh dari pemukiman rumahnya. Mulai ashar sampai sehabis isya’ ia akan berkeliling menjajakan suaranya, dari satu bis ke bis yang lainnya. Walaupun tak jarang ada kernet yang mengusirnya karena dianggap mengganggu penumpang.

 

Asri yang mendapati perlakuan semacam itu pun tidak pernah memberontak sama sekali. Ia hanya akan tersenyum dan meminta maaf kepada kernet tersebut lantas berpindah bus atau hanya sekedar berkeliling di warung-warung sekitar terminal.

Setelah isya’ ia sudah ada di rumah bersama keluarganya, bercengkrama sekadarnya. Karena sudah pasti lelah setelah seharian bekerja menguasai tubuhnya.

“Buk, tadi bapak masakin aku singkong rebus tauk. Enak banget, Azam suka.” Celoteh bocah 4 tahun dengan riang gembira.

“Wah ibuk kok nggak dikasih zam.” Gurau Asri menanggapi cerita anak bungsunya itu.

“Tadi dikasih sedikit rezeki dari pak lurah, ya singkong itu. Tak kasih ke mbakyu sebagian wong dia tadi kebetulan kesini. Kasian dia baru ditinggal suaminya.” Jelas Pak Hasyim menjawab pertanyaan istrinya kepada anak bungsunya itu.

“Halah, bapak itu loh susah sendiri, bisa-bisanya kasian ke bu de fatimah. Bu de kan anaknya udah kerja semua, pasti udah dikasih uang lah sama anak-anaknya.” Celetuk syifa, anak kedua di keluarga pak hasyim.

“Syifa, gak boleh ngomong gitu ya nak. Membantu orang itu tidak perlu memandang orang itu lebih mampu dari kita atau tidak. Selagi kita masih bisa membantu kenapa tidak.”

“Tapi buk kenyataannya hidup kita kan emang lebih susah dari mereka-mereka” ujar syifa mengeluhkan keadaan keluarganya.

“Syifa, siapa yang tahu kalau hidup kita lebih susah dari mereka. Kita tidak tahu kan kalau ternyata mereka memang sedang kesusahan bahkan melebihi kita”

“Tugas kita dari tuhan itu menjadi baik, bukan terlihat baik dimata manusia.”

“Jadi mau orang yang kita bantu lebih mampu dari kita atau tidak. Mau orang itu melihat kebaikan kita atau tidak, tetaplah berbuat baik, karena itu tugas kita dari Tuhan.” Mendengar penuturan bu asri, syifa terdiam menunduk mencerna nasihat ibunya.

“Sudah-sudah, syifa dan roni belajar, besok kan sekolah. Dilihat ada pr atau tidak.”

“Roni enggak ada pr kok pak, sudah roni kerjakan kemarin disekolah sekalian ngisi waktu istirahat.” Jawab roni anak ketiga dikeluarga ini dengan wajah sumringah.

Sementara itu, bu asri sudah dikamar menemani azam yang selalu minta dikelonin saat hendak tidur. Bu asri mengelus-elus kepala anaknya itu sambil membacakan sholawat yang selalu  ia lantunkan disegala aktivitasnya .

 

Pukul tiga dini hari,asri sudah terbangun dan tengah bersimpuh atas sajadah merahnya. Ia kerahkan keluh kesahnya kepada Tuhannya. Hanya diwaktu itulah  orang bisa melihatnya sangat rapuh dan tak berdaya sama sekali. Namun nyatanya tak ada satu orang pun yang mengetahui barang sedikit pun tentang luka dan tangisnya.

 

Bakda shubuh Asri sudah bergegas menuju kediaman Pak Bayan, tempat ia mengais rupiah setiap harinya. Namun pagi ini nampaknya ketenangan tidak ingin bersahabat dengannya.

Baru saja ia menginjakkan kaki di gerbang rumah majikannya itu. Asri yang tak tahu-menahu tetiba diseret kebelakang rumah oleh bu bayan.

“Asrii!” bentak bu bayan sekeras-kerasnya.

“Kamu jadi pembantu tuh harusnya tau diri ya! maksud kamu apa goda-goda suami saya hahh!” Bentak bu bayan sambil menarik-narik kerudung asri.

“Enggak bu, demi Allah saya enggak pernah berniat menggoda pak bayan, apalagi benar-benar menggoda beliau”. Rintih asri sambil memegang kepalanya yang dijambak oleh bu bayan. Kamu beres. Dasar pembantu gak guna pergi kamu dari sini.”

Asri pun melangkah pergi meninggalkan kediaman mantan majikannya itu. Sepanjang jalan bu bayan tidak putusnya mengucapkan istighfar, tak lupa sholawat yang tak pernah putus ia lantunkan.

 

Asri berhenti sejenak di masjid sebelum akhirnya ia memutuskan pergi ke terminal untuk menjajakan suaranya menghibur penumpang bus. Namun tak dinyana tak disangka, setelah sholat dluha 8 rakaat, disujud terakhirnya asri tak kunjung bangkit.

Sampai waktu dluhur tiba, Asri ditemukan sudah tak bernyawa oleh marbot masjid. Karena sang marbot tidak tahu identitas Asri lantas memanggil temannya yang juga menjadi marbot di masjid tersebut.

 

“Innalillahi wa inna ilaihi rajiun, ini bu asri tetangga mertua saya.” Ujar pak firman yang juga merbot disitu. Akhirnya jasad asri dibawa masyarakat sekitar masjid tersebut kekediamannya untuk diurus jenazahnya. Belum juga sampai di pelataran rumah, jasad asri disambut oleh banyak orang yang menangisi kepergiannya. Tetangga-tetangga asri pun terheran-heran melihat lautan manusia yang melayat ke rumah asri.

 

“Kok bisa ada orang sebanyak ini yang ngelayat ya buk, sampe kayak priyai besar yang meninggal.” Bisik salah satu tetangga asri.

“Bu Asri orang yang baik bak bidadari syurga. Setiap malam beliau selalu memberi kami makan. Anak-anak jalanan, anak-anak yatim yang tidak pernah dihiraukan orang-orang. Bertahun-tahun beliau selalu melakukan hal itu.” Ujar seorang anak remaja berusia sekitar 16 tahun.

 

Tetangga yang mendengar penuturan bocah berpenampilan kumuh itu pun tertegun. Mereka seketika kagum dengan fakta yang baru mereka dengar. Selama ini mereka hanya memandang Asri sebagai seorang yang miskin, namun ternyata lebih dari itu. Asri sejatinya adalah orang kaya yang sebenarnya. Ia bahkan mampu bersedekah dan membantu orang-orang disekitarnya ditengah kesulitan yang melanda keluarganya.

 

Tak selang beberapa lama setelah jasad asri dimandikan, tiba-tiba ada seorang yang sepuh dan tua mendatangi kediaman asri. Orang tersebut berjalan mendekati pak hisyam dan berbisik di telinga Pak Hisyam.

“Berbahagialah, istrimu adalah salah seorang wanita yang dirindukan syurga”

 

Pak Hisyam seketika meneteskan air matanya. Hatinya bergetar mendengarkan kemuliaan yang didapati istrinya. Ia mencoba menguatkan hatinya agar mampu mengikhlaskan istri tercintanya itu.

 

“Sabarlah. Istrimu ahli sholawat, ia bersholawat di terminal lalu mendapat hadiah dari orang-orang yang mendengarkan lantunan merdu istrimu itu. Lalu hadiah itu akan ia shodaqahkan kepada anak-anak yatim yang kelaparan disekitar terminal. Sungguh mulia perangai istrimu”. Kakek tua itu berkisah kepada pak hasyim dengan mata yang teduh.

 

“Kau lihat orang-orang yang melayat itu.”

Kakek itu menunjuk sekelompok orang berbaju putih nan bersih berseri.

“Mereka malaikat yang akan menjemput istrimu dan mengantarkannya ke kubur. Ke gerbang menuju nikmat kubur. Gerbang menuju syurga Nya kelak.”

 

Pak Hasyim tak mampu lagi menahan debar didadanya akhirnya pingsan dengan senyuman dan sisa-sisa air mata yang telah begitu derasnya menetes.

 

Tamat

#CERPENRELIGI

 

Facebook
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories

Most Popular

Copyright © 2025 MA NU ALMUSTAQIM. All rights reserved.