Artikel

Seringkali kata Literasi ini hanya sebagai kemampuan dan membaca. Memang benar dalam kamus KBBI Literasi yang artinya kemampuan menulis dan membaca.

REFLEKSI PELATIHAN MODERASI BERAGAMA DAN INTERNALISASI EKOTEOLOGI

Oleh: Sholahuddin Muhsin

Kepala Madrasah Aliyah NU Al Mustaqim dan Alumnus Center For Religious and Cross-Cultural Studies (CRCS) Sekolah Pascasarjana UGM Yogyakarta.

REFLESI PELATIHAN MODERASI BERAGAMA DAN INTERNALISASI EKOTEOLOGI

Oleh: Sholahuddin Muhsin*

Kepala Madrasah Aliyah NU Al Mustaqim dan Alumnus Center For Religious and Cross-Cultural Studies (CRCS) Sekolah Pascasarjana UGM Yogyakarta.

Ekoteologi menjadi pembahasan tentang pemahaman yang menegaskan hubungan harmonis antara manusia, alam, dan sang pencipta. Adanya sebuah pelatihan moderasi beragama dan Internalisasi Ekoteologi telah dibuka resmi oleh Mas Ruchman Bashori, Kepala Pusat Pembiayaan Kementerian Agama.

Dalam pidato pembukaan Mas Ruchman Bashori, Kepala Puspenma mengatakan bahwa bapak dan ibu yang terpilih mengikuti pelatihan adalah manusia terpilih dan oleh karena itu harus bersungguh-sungguh dalam pelatihan. Yang menarik dari Pidato Mas Ruchman Bashori adalah pentingnya pelatihan moderasi beragama didorong karena munculnya tiga factor utama: pertama, munculnya kelompok-kelompok yang mempertanyakan consensus nasional (Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, UUD 1945), kedua truth claim keagamaan yang muncul karena pemahaman yang sempit tentang doktrin-doktrin keagamaan. Dalam sejarah hal ini dapat dirunut dari Abdullah bin Muljam yang membunuh Sayyidan Ali KW. Ketiga, munculnya silent majority atau mayoritas yang diam dan tidak melakukan counter wacana terhadap maraknya radikalisme dan fundamentalisme beragama.

***

Hari kedua dimulai dengan rangkuman atas apa saja yang telah dibahas pada hari pertama dan kemudian dilanjutkan asistensi pencairan dana melalui akun yang telah disediakan oleh Puspenma dan LPDP. Setelah acara asistensi oleh Team Pespenma selesai, acara dilanjutkan dengan sesi materi, sesi pertama membahas tentang udar asumsi dan membangun perspektif. Udar asumsi dilakukan dengan tujuan bahwa apa-apa yang kita asumsikan itu tidak ada dan hanya ilusi. Asumsi itu berasal dari data yang sepotong-potong, karena data yang kita terima seringkali tercampuri dengan apa yang disebut debagai ego sentrik memori. Yaitu usaha pencarian dalil-dalil yang menguatkan keinginan dia sendiri tanpa melihat dalil-dalil yang lain yang menjadi opposite nya.

Kemudian juga membahas tentang ladder of Inference yaitu model yang menggambarkan proses mental dimana orang bergerak dari pengamatan fakta ke pengambilan tindakan, seringkali tanpa menyadari telah terjebak kepada bias kognitif. Bias adalah pola keasalahan sistematis dalam pola pikir kita.

Ada beberapa bias kognitif yang perlu untuk diwaspadai dalam diri kita:

  1. Ego centric memory: kecenderungan untuk melupakan bukti dan informasi yang tidak mendukung pendapatnya dan mengingat bukti dan informasi yang mendukungnya.
  2. Egocentric Myopia: kecenderungan alamiah untuk berfikir absolutist dalam sudut pandang yang sangat sempit.
  3. Egocentyric Righteousness: kecenderungan alamiah merasa lebih baik dari yang lain atau yakin yang lebih benar dari yang lain padahal belum tentu benar.
  4. Egocentric Hypocricy: kecenderungan alamiah untuk tidak menghiraukan inkonsistensi, misalnya antara kata dengan perbuatan atau standart yang kita pakai untuk diri kita sendiri dan yang kita pakai untuk orang lain.
  5. Egocentric Oversimplivication: kecenderungan ilmiah untuk mengabaikan kompleksitas masalah yaitu dengan memilih pandangan yang simplistic bila kompleksitas tadi mengharuskan kita untuk mengubah pendapat.
  6. Egocentyric Blindness: kecenderungan alamiah untuk tidak memperhatikan fakta dan bukti yang berlawanan dengan kepercayaan dan nilai-nilai kita

****

Pada hari ketiga pelatihan sesi pertama diisi oleh Prof Abdurrahman Kasdi wawasan kebangsaan dan jati diri Kementerian Agama. Wawasan adalah cara pandang atau cara melihat dan kebangsaan adalah hubungan hukum antara orang dengan negara. Bhinneka Tunggal Ika yang berarti berbeda-beda tetapi tetap satu merupakan dasar pengelolaan keberagaman yang ada di tanah air. Sesi ke-2 di sampaikan oleh Prof Inung dengan zoom, beliau mengatakan bahwa sebuah diskursus lahir dari sebuah konteks, tidak ada satu diskursus yang lahir dari ruang kosong 87 persen penduduk Indonesia adalah beragama Islam, maka tidak heran jika moderasi beragama di Indonesia utu heavy to Islam (berat ke agama Islam). Prof Inung juga menyampaikan ada dua macam teori otoritas;

  1. Otoritas Persuasive: otoritas yang dipegang oleh kalangan cerdik pandai untuk melakukan persuasi terhadap orang lain supaya orang lain itu melakukan apa yang diperintahkan. Yang memiliki otoritas persuasive itu adalah Kiai, Dosen, guru dan lain sebagainya.
  2. Otoritas Koersif: otoritas untuk melakukan punishment (hukuman) apabila seseorang melanggar peraturan, yang memiliki otoritas koersif adalah apparatus negara, Polisi, TNI dan lain sebagainya.

Dari pelatihan yang saya ikuti selama tujuh hari saya mendapatkan banyak keuntungan, diantaranya adalah mendapatkan insight baru tentang moderasi dan juga ekoteologi, dan mendapatkan perangkat-perangkat metodologis untuk analisis social dan analisis kehidupan keberagamaan di masyarakat.

Selasa, 2 Desember 2025

#Refleksi #ekoteologi #moderasi #pelatihan

Facebook
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories

Most Popular

Copyright © 2025 MA NU ALMUSTAQIM. All rights reserved.