Oleh: Isniatul Dinda Firdianti
Niliya Tiari Arinti, biasanya dipanggil Tiari. Dia adalah seorang yang suka berharap dan sangat cantik. Selain itu juga dia adalah seorang santri sekaligus siswi yang selalu berharap akan kemauannya.
Pada waktu itu Tiari terpilih sebagai siswi yang mengikuti lomba mapel disekolahnya dia merasa sangat senang atas kabar ini. Setelah lamanya sekolah, bel pulang pun berbunyi Tiari dan teman-temannya pun kembali ke rumah terindahnya yaitu Pesantren. Sepulang sekolaah Tiari langsung makan siang dan sholat. Setelah itu ia tidur siang supaya nanti tidak mengantuk saat sekolah muhadhorohnya.
Waktu sudah berlalu, Tiari mempunyai hafalan yang seharusnya sudah disetorkan kepada gurunya namun, ia belum mempunyai hafalan sedikit pun. Malam tiba Tiari bersiap-siap untuk jamaah maghrib dan mengaji Al-Qur’an dan menunggu isyak datang. Setelah melakukan kegiatan-kegiatannya Tiari lupa bahwa malam ini ada jadwal les dengan guru pembimbingnya untuk lomba mapelnya ia langsung bergegas mengambil buku dan bolpoinnya. Karena sekolahnya sangat dekat dengan pondok, Tiari merasa tenang – tenang saja, guru pun sudah tiba. Namun, Tiari belum pernah belajar apapun tentang mapel yang diikutinya dia hanya berharap dan menyepelekan semua tugas-tugasnya. Selain itu juga dia selalu berharap akan semuanya tapi tidak ada perjuangan sedikitpun yang ia lakukan.
Setelah satu minggu belajar untuk persiapan lomba, waktu lomba pun datang ia masih berharap bahwa ia akan memenangkan lomba ini padahal dalam satu minggu ini ia tak pernah ber sungguh-sungguh dalam belajarnya.
Satu jam selesai Tiari pun keluar dari ruang lombanya dengan santai, Selang beberapa jam juara pun diumumkan dengan sangat percaya diri. Ia yakin bahwa akan juara. Namun setelah diumumkan dan tidak ada namanya yang di sebutkan ia sangat sedih dan tidak ada kecewa.
Hari sudah mulai sore Tiari dan teman-temannya sekaligus gurunya kembali pulang ke rumah masing-masing. Sesampainya di Pondok Tiari sangat Lelah. Tapi, ia tidak membawa hasil apapun. Setelah ia sholat magrib badannya terasa panas dan ingin muntah ia pun sakit selama dua hari. Suara pesan masuk dari handphone nya lalu ia melihat pesan tersebut ternyata itu dari ibunya yang menanyakan menang atau kalah. Tiari sangat sedih dan kecewa kepada dirinya sendiri ia merasa tidak pernah membanggakan orang tuanya sekali ada kesempatan untuk menang tapi malah ia sia-siakan.
Dari kejadian yang dialaminya, Tiari şadar bahwa seorang santri itu berat tapi ia lebih menyadari bahwa kerja keras orang tua itu jauh lebih berat. la pun sadar selama ini jika tidak ada sosok ayah dan ibu apakah ia masih bisa sekolah?
Jadi, Tiari pun menyadari bahwa harapan tanpa adanya perjuangan itu tidak bisa mendapatkan hasil yang kita inginkan. Maka dari itu, boleh berharap tapi jangan lupa, bahwa perjuangan lah yang menghasilkan harapan itu tersebut.
Jepara, 12 November 2025
#Cerpen #Sastra #Siswimanualmustaqim